Kesehatan

5 Langkah Cegah Obesitas Akibat Pandemi

Ikhsan Aryo DigdoIkhsan Aryo Digdo - Jumat, 26 Maret 2021
5 Langkah Cegah Obesitas Akibat Pandemi

Konsumsi porsi makanan yang lebih kecil tapi sering. (Foto: 123RF/Konstantin Malkov)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BEBERAPA orang mungkin bertambah berat badannya sekitar 0,5 kg rata-rata per bulan selama pandemi karena lebih sering di rumah. Hal itu diungkapkan dalam sebuah penelitian yang mengamati hampir 7.500 pengukuran berat badan dari 269 peserta antara 1 Februari dan 1 Juni 2020.

Dalam jurnal penelitian yang diterbitkan Senin (22/3) di JAMA Network Open, para peserta adalah bagian dari 'Health eHeart Study', dan pengukuran berat badan mereka berasal dari smart scales yang terhubung dengan Bluetooth.

Baca juga:

Kemungkinan Kematian COVID-19 Meningkat pada Orang dengan Obesitas

"Rata-rata, berat badan mereka naik sekitar 0,6 pon (0,3 kg) setiap 10 hari atau 1,8 pon (0,8 kg) per bulan selama kebijakan lockdown," kata ahli jantung Dr. Gregory Marcus, salah satu penulis penelitian dan profesor kedokteran di The University of California, San Francisco, AS.

Mengapa Orang Bertambah Gemuk?

Penambahan berat badan ini terlepas dari lokasi geografis atau komorbiditas, demikian temuan penelitian. Penulis studi tersebut mengatakan penerapan aturan di rumah saja juga memengaruhi penurunan jumlah langkah harian dan peningkatan makan berlebihan yang dilaporkan sendiri oleh peserta penelitian.

Kedua faktor yang saling berhubungan ini mengikuti apa yang menurut para ahli menjadi penyebab di balik peningkatan berat badan selama pandemi. Kontributor kesehatan dan nutrisi CNN, Lisa Drayer menyebut comfort food, secara khusus, sebagai masalah selama masa yang membuat stres ini.

Selama lockdown, banyak orang beralih ke makanan berkalori tinggi seperti permen atau pizza untuk menghilangkan stres saat tidak ada lagi yang bisa dilakukan atau dinantikan. Dan, bekerja dari rumah memungkinkan dapur mudah dijangkau sepanjang hari.

Perubahan Kebiasaan Olahraga

Sebagaimana pandemi telah mengubah kebiasaan makan, hal itu juga berdampak pada kebiasaan olahraga, menurut Dr. Caroline Apovian, wakil direktur Pusat Manajemen Berat dan Kesehatan di Brigham dan Rumah Sakit Wanita di Boston, AS.

Dengan pusat kebugaran yang tutup dan orang kehilangan aktivitas fisik harian dasar, seperti berjalan dari tempat parkir ke kantor mereka, sebagian orang tidak mendapatkan tingkat latihan yang sama dengan yang mereka lakukan sebelum pandemi.

Jika kamu membaca ini dan memikirkan tentang kebiasaan buruk yang dilakukan selama setahun terakhir, Drayer mengatakan ini bukan waktunya untuk menyalahkan diri sendiri. "Yang pasti jangan terlalu membebani diri sendiri," kata Drayer. "Makan adalah salah satu kesenangan hidup, dan pandemi itu sangat membuat stres, jadi dapat dimengerti kita makan lebih banyak makanan favorit yang menenangkan, dan seringnya dalam jumlah yang lebih banyak."

Namun, penting untuk mengenali konsekuensi kesehatan yang tidak diinginkan dari perintah penampungan di tempat, kata penulis penelitian. Mereka mencatat bahwa hasil mereka menunjukkan perlunya strategi untuk mengurangi berat badan karena pemerintah daerah mempertimbangkan tanggapan mereka terhadap COVID-19 dan pandemi di masa depan.

Drayer mengatakan ada beberapa langkah yang dapat kamu ambil untuk meningkatkan metabolisme, memperbaiki kebiasaan buruk, dan menurunkan berat badan, bahkan selama pandemi:

1. Konsumsi makanan dalam porsi kecil tapi sering

Jangan pernah lewatkan waktu makan. (Foto: 123RF/Konstantin Malkov)

Makan tiga kali dan jangan lupa dengan tiga kali camilan setiap hari. Masing-masing dengan jarak tiga hingga empat jam. Jangan pernah melewatkan waktu makan. Simpan camilan yang mudah dibawa-bawa saat kamu terlalu sibuk untuk berhenti bekerja dan makan. Cobalah untuk konsisten dengan waktu makan dan ngemil.

2. Jangan lupa asupan protein

Lengkapi makanan dengan asupan protein yang mencukupi. (Foto: 123RF/Olena Danileiko)

Usahakan untuk memasukkan setidaknya 85 gram protein setiap kali makan. Untuk perbandingan porsinya, kira-kira seukuran mouse komputer atau setumpuk kartu.

3. Mulai latihan beban

Secara bertahap mulai latihan beban. (Foto: 123RF/maridav)

Angkat beban ringan akan membantumu mempertahankan massa otot, meningkatkan metabolisme, dan membentuk tubuh saat kamu dalam program penurunan berat badan.

Baca juga:

Hindarkan Anak dari Risiko Obesitas saat Pandemi

4. Mulailah berjalan di dalam atau sekitar rumah

Perbanyak jalan kaki di dalam atau di sekitar rumah. (Foto: 123RF/Siam Pukkato)

Jalan cepat selama setidaknya 30 menit setiap hari akan meningkatkan metabolisme dan membantumu membakar kalori ekstra. Lakukan di mana saja, di dalam rumah atau di sekitar tempat tinggal.

5. Temukan alternatif penghilang stres

Cari menghilangkan stres yang bukan makanan. (Foto: 123RF/dolgachov)

Jangan lari ke makanan sebagai pereda stres. Terkadang kamu mungkin ingin memanjakan diri dengan makanan manis, tetapi sering kali, mandi air panas atau berjalan-jalan di sekitar rumah sama-sama bisa menghilangkan stres.

Apovian berharap, paling tidak, orang belajar pentingnya mengatasi obesitas. "Ini menunjukkan bahwa berat badanmu berubah dalam lingkungan yang berbeda. Dan itu bukan salahmu, itu karena (obesitas adalah) penyakit. Dan penyakit obesitas adalah disfungsi koneksi otak ke hormon yang mengontrol nafsu makan dan rasa kenyang," dia menjelaskan.

"(Penelitian) menunjukkan bahwa penyakit (obesitas) kamu bisa menjadi lebih buruk jika ada banyak makanan di sekitar atau kamu tidak melakukan terlalu banyak bergerak dan di rumah saja. Ini menunjukkan, faktanya ini bukan masalah kemauan," demikian tutup Apovian. (aru)

Baca juga:

Obesitas Membuat Siklus Menstruasi Terganggu

#Kesehatan #Obesitas
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
ShowBiz
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Tanpa ragu, Jisoo mengambil sekotak susu kedelai.
Dwi Astarini - Rabu, 30 September 2026
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Indonesia
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Pada rentang waktu yang sama, katanya, gagal ginjal menduduki urutan kedua, dengan total biaya sebesar Rp 83,8 triliun yang dikeluarkan untuk membayar pelayanan kesehatan 81,2 juta kasus.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Bagikan