Kesehatan

Hindarkan Anak dari Risiko Obesitas saat Pandemi

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 23 Maret 2021
Hindarkan Anak dari Risiko Obesitas saat Pandemi

Tak lagi bisa beraktivitas di luar ruang, anak-anak rentan terkena obesitas di masa pandemi. (foto: unsplash/austin pacheco)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SEBELUM pandemi menyerang, anak-anak sampai orang tua menjalani rutinitas bekerja di luar ruang. Anak sekolah yang sebelumnya bisa bermain dengan teman-temannya di lapangan, kini hanya bisa beraktivitas di rumah dan menatap layar gedget untuk belajar dan bermain. Kebiasaan itu harus segera diubah agar anak tidak kecanduan bermain gadget dan malas bergerak

Kurang gerak pada anak bisa menimbulkan risiko obesitas. Pada anak hingga beranjak remaja, risiko obesitas bisa lebih tinggi daripada orang dewasa. Hal itu tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik, tetapi juga berdampak citra diri yang buruk. Oleh karena itu, membimbing dan mengawasi pertumbuhan anak merupakan tugas wajib sebagai orang dewasa.

BACA JUGA:

Lelah dengan Pandemi COVID-19 akan Memunculkan Pandemic Fatigue

Seperti dilansir Halodoc, penyebab utama seseoarang mengalami obesitas karena pola makan yang buruk dan banyak mengandung lemak atau gula, tetapi sedikit nutrisi. Hal itu menjadi faktor utama berat badan cepat naik. Makanan saji cepat, makanan beku, dan makanan berminyak juga berpengaruh besar pada berat badan. Orangtua haruslah harus pintar-pintar memilih dan mengatur asupan makanan untuk anak sehingga terhindar dari obesitas. Beberapa hal berikut bisa dilakukan untuk menghindarkan anak dari risiko obesitas selama masa pandemi.


1. Mengubah pola makan

kids
Kurangi permen dan makanan saji cepat. (foto: Unsplash/wade austin ellis)

Sebagian besar pola makan pada anak diatur orangtua. Oleh karena itu, kurangi memberikan permen, makanan saji cepat, dan makanan yang tinggi lemak. Memberikan susu yang rendah lemak menjadi alternatif pada minuman anak. Makan buah buahan juga bagus untuk mengatur berat badan pada anak bahkan untuk orang dewasa.

2. Meningkatkan aktivitas fisik

kids
Kegiatan permainan bisa melatih anak-anak untuk bergerak dan berkeringkat (foto pixabay trilemedia)

Tak mudah membujuk anak untuk berolahraga. Susah-susah gampang. Namun dengan alasan 'bermain' permainan tradisional seperti polisi-polisian, engklek, dan permainan lain yang membutuhkan stamina fisik, berat badan dapat dikontrol dengan baik.

3. Kurangi main gadget

kids
Kurangi waktu bermain gadget. (foto: unsplash/robo wunderkind)

Di masa sekarang, anak-anak lebih memilih bermain gadget daripada bermain kejar-kejaran bersama temannya. Jika terus dilakukan, kebiasaan itu akan berdampak pada tumbuh kembang anak. Tidak hanya dapat menimbulkan resiko obesitas, tetapi juga berdampak buruk pada sikap perilaku anak, karena paparan konten yang kurang tepat untuk anak di internet.(rzk)

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - 1 jam, 20 menit lalu
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
ShowBiz
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Tanpa ragu, Jisoo mengambil sekotak susu kedelai.
Dwi Astarini - Rabu, 30 September 2026
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Bagikan