MerahPutih.com - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengungkap dua kapal tanker milik Pertamina hingga kini belum dapat melintas di Selat Hormuz, Iran.
Pemerintah Indonesia saat ini masih melakukan upaya diplomasi untuk memastikan kapal pembawa minyak tersebut dapat melanjutkan perjalanan dengan aman.
"Kami mengupayakan agar kapal Pertamina bisa melintasi dari Selat Hormuz," kata juru bicara Kemlu, Vahd Nabyl, dalam jumpa pers di kantor Kemlu, Jakarta Pusat, Rabu (8/4).
Menurut Nabyl, terdapat sejumlah kendala teknis yang tengah diatasi agar kapal-kapal tersebut dapat melintas.
"Terdapat beberapa hal yang cukup teknis yang memang sedang ditindaklanjuti untuk bisa memastikan keselamatan untuk melintas dari sana. Dan ini termasuk antara lain seperti hal-hal seperti asuransi dan juga kesiapan kru," ungkapnya.
Ia menegaskan, selain aspek teknis, pemerintah juga memprioritaskan keselamatan seluruh kru kapal sebagai faktor utama dalam pengambilan keputusan.
Baca juga:
DPR Ingatkan Risiko Finansial Pertamina akibat Penahanan Harga BBM
Lebih lanjut, Nabyl menjelaskan bahwa Kemlu bersama KBRI Teheran telah menjalin koordinasi intensif dengan pemerintah Iran. Komunikasi juga dilakukan melalui kedutaan Iran di Jakarta.
"Dan termasuk dilakukan juga oleh Bapak Menlu dalam pertemuan dengan Dubes Iran dan juga oleh Dubes kita di Teheran dengan otoritas-otoritas di Iran," jelas dia.
Dalam proses ini, Indonesia menekankan pentingnya kepatuhan terhadap hukum internasional, termasuk prinsip kebebasan navigasi di jalur laut internasional.
"Dan kita dalam tadi seperti di awal disampaikan juga bahwa pada prinsipnya tentu kita ingin meminta agar kebebasan navigasi itu dihormati dan sesuai dengan hukum internasional dan UNCLOS," ucapnya.
Baca juga:
Uji Nyali 2 Tangker LNG Qatar Tembus Selat Hormuz Gagal, Muter-Muter di Teluk Persia
Saat ini, terdapat dua kapal milik Pertamina yang diketahui tertahan di Selat Hormuz, yakni Pertamina Priden dan MT Gamsunoro.
Pemerintah memastikan akan menindaklanjuti setiap laporan terkait kapal yang berkaitan dengan kepentingan nasional.
"Kami merespons setiap laporan, bukan hanya satu atau dua, tapi apa pun kapal yang yang terkait dengan kepentingan nasional kita, pasti kita tindak lanjuti," kata dia.
Nabyl menambahkan bahwa setiap negara pada dasarnya melakukan upaya serupa untuk melindungi kapal dan kepentingan nasionalnya masing-masing.
Karena itu, ia menilai tidak tepat membandingkan situasi Indonesia dengan negara lain yang kapalnya telah mendapat izin melintas.
Beberapa negara seperti Pakistan, India, dan Filipina disebut telah memperoleh izin melintas dari Iran.
Terbaru, Anwar Ibrahim mengungkapkan melalui platform X bahwa Iran telah mengizinkan kapal Malaysia melintasi Selat Hormuz pada Selasa (7/4), setelah pertemuannya dengan Duta Besar Iran di Malaysia, Valiollah Mohammadi.
"Jadi, tidak harus membandingkan dengan negara lain, tetapi memang setiap negara punya kepentingan yang sama dan upaya yang sama," terang Vahd. (Knu)