Warga Shanghai Gunakan NFT untuk Rekam Masa Lockdown

Jumat, 06 Mei 2022 - Andreas Pranatalta

SELALU ada cara unik yang bisa dimanfaatkan di era canggih ini. Seperti masyarakat Shanghai yang memanfaatkan blockchain untuk merekam dan mengabadikan masa-masa lockdown COVID-19.

Mereka menciptakan video, foto, hingga karya seni dalam bentuk Non Fungible Token (NFT) agar bisa menggambarkan masa-masa berat di Negeri Tirai Bambu, serta terhindari dari penyensoran dan penghapusan konten oleh otoritas setempat.

Mengutip laman ANTARA, Rabu (4/5), aktivitas itu dilakukan karena ketatnya lockdown yang membuat mereka tidak dapat meninggalkan rumah selama berminggu-minggu. Sebanyak 25 juta penduduk di Shanghai melepaskan rasa frustasi mereka secara daring, melampiaskan emosi memuncak akibat kesulitan mendapatkan logistik, hingga layanan kesehatan yang layak selama masa lockdown.

Baca juga:

Karafuru Carnival Hadirkan Experience Proyek NFT ke Dunia Nyata

Warga Shanghai Gunakan NFT untuk Rekam Masa Lockdown
Lockdown yang terjadi di Shanghai telah berlangsung sejak Maret. (Foto: Unsplash/Haydn Golden)

Pemerintah Tiongkok juga menegaskan akan meningkatkan pengawasan internet dan obrolan grup mengenai masalah lockdwon. Mereka akan memburu masyarakat yang dinilai menyebarkan rumor dan pemicu perselisihan agar publik bereaksi keras terhadap lockdown.

Gambaran lockdown yang direalisasikan dalam bentuk NFT akhirnya mendorong pegiat konten kreatif beralih ke pasar seperti OpenSea. Peralihan itu didasarkan pada fakta bahwa NFT akan terekam di blockchain dan tentunya tidak dapat dihapus.

Puncak lockdown di Shanghai terjadi pada 22 April, ketika warganet berjuang melawan sensor semalaman untuk membagikan video enam menit berjudul The Voice of April, sebuah montase suara yang direkam selama masa lockdown di Shanghai.

Pada Senin (2/5), diketahui ada 786 item berbeda terkait dengan video tersebut dapat ditemukan di OpenSea, bersama ratusan NFT lainnya terkait dengan penguncian di Shanghai. Nampaknya, tren itu bermulai dari seorang pengguna Twitter Tiongkok dengan namma imFong mengunggah cuitan yang di-retweet secara luas.

"Saya telah mencetak video Voice of April menjadi NFT dan telah membekukan metadata-nya. Video ini akan ada selamanya di IPFS," katanya.

Baca juga:

Bagaimana Cara Mendapat Keuntungan dari NFT?


Cuitan yang diunggah pada 23 April itu pun akhirnya memulai gerakan NFT sebagai gerakan rakyat mengeluarkan segala unek-unek yang dibendung pemerintah. Konten dari Shanghai lainnya yang tersedia di OpenSea sebagai NFT untuk dijual itu termasuk unggahan-unggahan di Weibo yang berisi keluhan tentang pembatasan, gambar dari dalam pusat karantina, dan karya seni yang terinspirasi oleh kehidupan di bawah kondisi lockdown.

Misalnya karya Simon Fong, seorang desainer asal Malaysia yang tinggal di Shanghai selama sembilan tahun, ia membuat ilustrasi satir tentang kehidupan lockdown dengan gaya poster propaganda era Mao.

"Saya memilih gaya propaganda era Mao untuk karya-karya ini karena beberapa orang mengatakan bahwa situasi lockdown membuat Shanghai mundur," kata Fong.

Lockdown yang terjadi di Shanghai telah berlangsung sejak Maret, dan menjadi penguncian terburuk sejak pandemi COVID-19 berlangsung di negara tersebut. (and)

Baca juga:

Album Debut Matter Mos 'Pronoia' Bakal Hadir dalam Bentuk NFT

Bagikan

Baca Original Artikel
Bagikan