MEMBANTU sesama merupakan satu hal mulia dan untuk membuat dunia menjadi lebih baik. Seperti yang dilakukan Yayasan Anak Bangsa Bisa (YABB) sebuah organisasi nirlaba dari Grup GoTo yang kembali meluncurkan ‘Laporan Dampak 2022’ yang menyajikan berbagai kemajuan, sebagai bukti dari upaya kolektif berbagai pihak dalam menyelesaikan permasalahan iklim, kemampuan digital hingga mengembangkan komunitas.
“2022 adalah tahun di saat dunia mulai terbebas dari COVID-19. Tahun di saat banyak hal baru lahir ataupun terlahir kembali. Terlepas dari berbagai tantangan yang terjadi pada 2022, di saat yang sama kita juga menemukan cara baru untuk berkembang bersama, menanamkan benih sebagai landasan untuk masa depan yang lebih baik dan meningkatkan dampak untuk perubahan jangka panjang,” ujar Chairperson YABB Monica Oudang dalam keterangan resmi yang diterima Merah Putih, Senin (3/4).
Baca juga:
Sebagai organisasi yang berkomitmen untuk mengakselerasi kemajuan menuju peradaban yang lestari, YABB mengidentifikasi sebuah pelajaran penting, yaitu solusi temporer dan upaya yang berjalan sendiri sendiri tidak akan cukup untuk menghasilkan perubahan jangka panjang.
“Untuk itu, kami berusaha merancang inisiatif dan program yang siap untuk dikembangkan sehingga dapat menghasilkan dampak berskala besar dan berkelanjutan. Kami menjalankannya berlandaskan tiga prinsip utama, yakni kolaborasi, perubahan paradigma, serta teknologi dan inovasi,” tambah Monica.
Kolaborasi tersebut direalisasikan melalui inisiatif Changemakers Nusantara, di mana YABB menghubungkan 1.500 changemakers di seluruh Indonesia, terutama pihak yang berkomitmen untuk membawa perubahan. Kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh divisi riset YABB bersama Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LDUI) untuk mempelajari mentalitas para changemakers tersebut, agar bisa menginspirasi generasi masa depan.
Di area lingkungan, YABB menciptakan solusi untuk mengentaskan permasalahan air dan sampah melalui Catalyst Changemaker Ecosystem (CCE) dengan dukungan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Di ekosistem ini YABB menciptakan lebih dari 100 koneksi dari 200 pemangku kepentingan multisektor, membaurkan 33 startup dan organisasi non-profit di dalam Lab, dan meningkatkan skala dari solusi berbasis teknologi dan komunitas yang diimplementasikan di proyek percontohan di Bandar Lampung, Semarang, dan Makassar.
Baca juga:
JIC dan Pengusaha Peduli NKRI Berikan 42 Ribu Paket Sembako ke Pengemudi Ojol
Lebih lanjut, Untuk membantu Indonesia memiliki talenta yang terampil sebagai fondasi kekuatan ekonomi digital, YABB berusaha menjembatani kesenjangan bagi 67 persen individu yang berasal dari universitas non-top tier dan 37 persen perempuan, untuk meningkatkan kompetensi di Generasi GIGIH, program yang menjadi bagian dari Kampus Merdeka, inisiasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Setelah melalui pembelajaran di kelas dan pengalaman magang maupun mengerjakan proyek capstone, lebih dari setengah peserta berhasil mendapatkan pekerjaan selepas dari program ini.
“Penyelesaian masalah iklim dan kemampuan digital yang kompleks butuh kolaborasi bermakna yang mampu melahirkan solusi inovatif melalui penerapan innovation ecosystem. Setiap pihak memiliki peran penting untuk menyatukan tujuan, serta saling berinteraksi mengisi kelebihan dan kekurangan sehingga bisa melahirkan inovasi,” tutup Monica. (Far)
>Baca juga: >Berbagi lewat Hantaran Ramadan