MERAHPUTIH.COM - MASYARAKAT Melayu di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, memiliki tradiai turun-menurun menyambut Ramadan yakni Mandi Balimau Kasai. Tradisi ini menjadi simbol peningkatan spiritual, historis, dan kearifan lokal. Tradisi ini biasanya dilaksanakan sehari menjelang ibadah puasa, tepatnya pada sore hari menjelang petang atau yang dikenal dengan istilah potang mogang, yakni waktu antara salat ashar dan magrib.
Secara etimologis, istilah balimau berasal dari bahasa Ocu (Kampar) yang berarti mandi menggunakan air yang dicampur perasan jeruk. Limau sendiri berarti jeruk. Jenis jeruk yang umum digunakan dalam ritual ini antara lain jeruk nipis, jeruk purut, dan jeruk kapas. Jenis jeruk tersebut sejak lama dikenal memiliki khasiat membersihkan dan menghilangkan bau tidak sedap.
Sementara itu, kasai berarti wewangian atau lulur tradisional. Kasai terbuat dari campuran air beras, kunyit, daun serai, dan daun jeruk. Ramuan ini biasa digunakan masyarakat sebagai pengharum badan sekaligus penyegar tubuh dan penyejuk kepala.
Penggunaan jeruk dan kasai dalam tradisi Balimau Kasai bukan tanpa alasan. Keduanya menjadi simbol penyucian dan pembersihan diri, baik secara jasmani maupun rohani, sebelum memasuki bulan Ramadan.
Baca juga:
Tradisi ini diyakini telah ada sejak berabad-abad lalu, bersamaan dengan masuknya Islam ke wilayah Kampar, yang dikenal sebagai salah satu daerah awal penyebaran Islam di Riau. Dalam praktiknya, ada urutan yang mesti dilakukan sebelum melakukan balimau. Tradisi ini diiringi berbagai kegiatan lain seperti ziarah kubur, pengajian, pertunjukan seni tradisional, hingga permainan rakyat.
1. Arak-arakan adat
Pawai ini dimulai dari balai adat menuju Balai Adat Ranah Tanjung di tepi Sungai Kampar. Arak-arakan biasanya dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, turut dihadiri petinggi daerah, dimulai dari datuk dari berbagai kecamatan. Aksi Silat Pangean, seni bela diri khas Melayu akan menandai dimulainya prosesi adat.
Tak cuma itu, ada yang disebut Upacara Tonggak Tongkul yakni penaikan bendera atau lambang kebesaran suku Melayu. Prosesi ini dipandu pembawa acara adat dan dihadiri para ninik mamak.
Rangkaian penyerahan tonggul dari sanak padusi kepada mamak suku, kemudian diserahkan kepada ketua anak jantan. Jumlah tonggul yang dinaikkan mencapai 63 buah, disertai dengan prosesi pemotongan hewan kurban.
Pada saat penaikan tonggul, hewan yang dikurbankan yaknikerbau, sementara pada prosesi penurunan digunakan kambing atau ayam, tergantung ketentuan adat.
2. Peletakan Tonggul
Saat prosesi penaikan Tonggul, ada ketentuannya. Biasanya harus condong ke tengah, sebagai simbol ketaklukan, ketaatan, dan kepatuhan kepada datuk adat.
Kemudian prosesi dilanjutkan dengan Makan Beradat. Aktivitas ini dimaknai sebagai kebersamaan. Makan bersama melibatkan tokoh adat, tokoh masyarakat, serta perwakilan instansi pemerintahan. Prosesi ini biasanya dilaksanakan pada pagi hari setelah upacara tonggak tongkul selesai, sebagai simbol kebersamaan dan persatuan.
Tak hanya di Riau, hampir di wilayah sebaran melayu di Sumatra memiliki tradisi mandi balimau. Hanya saja tata cara pelaksanaannya berbeda dari tiap daerah. Tergantung pada kontek adat istiadat setempat.(tka)
Baca juga:
Bakar Batu, Warisan Budaya Papua yang Menguatkan Toleransi di Akhir Ramadan