Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Suhu Jakarta Makin Gerah dan Sumuk, Ini Dia Biang Keroknya!

Wisnu Cipto - Kamis, 11 Juni 2026

MerahPutih.com - Jakarta dan sekitarnya tengah dilanda hawa panas yang terasa lebih gerah atau “sumuk” dalam beberapa hari terakhir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi ini akan berlangsung hingga akhir September 2026, bahkan bisa lebih parah saat memasuki Oktober.

Baca juga:

Gubernur DKI Pramono Siapkan Formula Baru Tekan Polusi Udara Jakarta

Kepada media dikutip Kamis (11/6), Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan fenomena ini dipicu posisi kulminasi matahari yang bergerak tepat di atas cakrawala Pulau Jawa.

“Mengenai temperatur di DKI Jakarta itu akan terasa lebih sumuk, karena sekitar bulan September akhir hingga Oktober, posisi matahari persis melintas di atas wilayah Pulau Jawa,” Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan

Siklus Tahunan Dampak El Nino

BMKG menegaskan sebelum memasuki fase lonjakan suhu ekstrem di akhir September, Jakarta akan terlebih dahulu menghadapi udara kering dengan kelembapan rendah sepanjang Juli–Agustus.

Menurut dia, kombinasi penurunan kelembapan dan kenaikan temperatur di Oktober merupakan siklus iklim tahunan khas kawasan hilir Pulau Jawa.

Baca juga:

El Nino Bakal Menggila Hingga Paruh Kedua 2026, Pemerintah Diminta Antisipasi Ancaman Kekeringan

Wilayah Jabodetabek dipastikan mengalami musim kemarau yang lebih lama dibanding kondisi normal. Dilansir Antara, laporan BMKG menunjukkan Jakarta Utara sudah memasuki musim kemarau sejak Mei, sementara Jakarta Selatan baru menyusul pada Juni.

"Durasi panas tahun ini diproyeksikan lebih panjang akibat fenomena El Nino," BMKG

Curah Hujan Turun dan Polusi Udara

BMKG mencatat minimnya curah hujan membuat kualitas udara di ibu kota menurun, sehingga polusi lebih mudah bertahan di udara, yang memicu kenaikan temperatur udara.

“Lapisan atmosfer kehilangan instrumen alami untuk mencuci partikel polusi yang diproduksi oleh transportasi harian dan pabrik,” Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan.

(*)

Baca Artikel Asli