Startup Tawarkan Teknologi untuk Para Petambak Budidaya Udang
Senin, 07 Februari 2022 -
FISTX, startup teknologi pertambakan udang dan ikan memperkenalkan teknologi yang dikembangkan dan siap digunakan para petambak budidaya udang. Teknologi tersebut adalah Recirculating Aquaculture System (RAS), yang digunakan berkonsep kolam petak untuk sistem budidaya secara insentif dengan memanfaatkan air secara terus menerus.
Teknologi ini juga membuat air pada kolam terjaga kualitasnya serta menghemat penggunaan dan biaya pergantian air. Salah satu yang sudah menggunakan teknologi ini adalah PT Nayottama Kelola Laut Indonesia (NKLI). Perusahaan secara resmi mengumumkan penggunaan teknologi terbaru RAS FisTx melalui sebuah perayaan soft launching di kolam budidaya yang terletak di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 20 Januari 2021 lalu.
“Konsep RAS serupa dengan akuarium, air kolam tidak dibuang tetapi disaring terus menerus. Jadi ide besarnya adalah bagaimana air yang ada ini dapat dikonservasi dan dipakai berkesinambungan dengan sistem filtrasi yang FisTx kembangkan," kata COO FisTx, Rico Wibisono.
Baca juga:
Keren! McDonald’s akan Menyediakan Teknologi Khusus untuk Disabilitas Netra
Menurut Rico, sistem ini terbukti aman karena sudah menerapkan sistem disinfeksi yang cukup ketat melalui teknologi buatannya, yakni Mobile Water Sterilizer yang dilengkapi dengan UV dan teknologi ozone untuk mengurangi penggunaan bahan kimia. Selain itu Mobile Water Sterilizer juga dapat digunakan sebagai water treatment unit.
Selain ramah lingkungan, manfaat lain dari teknologi RAS adalah meningkatkan produktivitas, meminimalisir permasalahan udang mati dini, dan hemat hingga 30 persen jika dibandingkan dengan pemakaian kimia seperti kaporit. Produksi per hari pun lebih cepat, growth rate meningkat rata-rata sekitar 20 persen, dengan efisiensi pakan hingga 23,5 persen.
Baca juga:
Penciptaan teknologi RAS pun tidak terlepas dari kegagalan Rico dengan budidaya tambak udangnya sendiri. "Kemudian, saya berinisiatif untuk mengembangkan teknologi RAS di kolam sendiri yang sebelumnya sudah saya kenal di Vietnam sejak 2020. Berawal dari situ kemudian saya terapkan RAS di FisTx,” kata lulusan pria Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Perikanan Budidaya ini.
Rico memetakan setidaknya ada empat tantangan dalam budidaya tambak udang, yakni manajemen tambak, manajemen operasional, manajemen konstruksi tambak, dan manajemen alam, contohnya pemilihan lokasi tambak yang tidak sesuai di lokasi rawan bencana seperti tsunami dan gempa.
"Tantangan kami adalah mengedukasi para petambak dari old mind menuju new mind in farming untuk dapat meningkatkan produktivitas tambaknya. Dengan menggunakan perhitungan yang mudah, efektif, dan terukur, RAS akan menjadi sistem yang akan mengangkat pertambakan di Indonesia,” tutupnya. (and)
Baca juga: