Merahputih.com - Aroma saus spageti menggoda selera seketika berubah menjadi mimpi buruk bagi ratusan siswa di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur.
Ruang kelas riuh biasanya penuh tawa mendadak senyap saat rasa mual hebat menyerang usai santap siang program makan bergizi gratis (MBG).
Kini, deretan ranjang rumah sakit menjadi saksi bisu perjuangan para siswa dan guru melawan dugaan keracunan makanan kiriman pemerintah tersebut.
Baca juga:
72 Siswa Dirawat, BGN Telusuri Penyebab Dugaan Keracunan MBG di Jakarta Timur
Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan kesiapan memikul tanggung jawab penuh bagi para korban terdampak. Kepastian ini muncul menyusul insiden medis menimpa puluhan siswa serta guru sekolah dasar dan menengah atas.
"Tidak ter-cover oleh BPJS Kesehatan, BGN menyatakan akan bertanggung jawab untuk itu," ujar Gubernur DKI Pramono Anung saat memantau kondisi pasien di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu (4/4).
Pembiayaan dan Pemulihan Cepat
Pramono Anung memastikan koordinasi cepat antara BGN, Pemerintah Provinsi DKI, Dinas Pendidikan, hingga Dinas Kesehatan telah berjalan. Bagi pasien pemilik kepesertaan BPJS Kesehatan, proses pengobatan tetap berlangsung hingga sembuh total tanpa biaya tambahan.
Data lapangan menunjukkan total 135 orang mengalami gejala keracunan. Rincian korban meliputi 33 siswa SDN Pondok Kelapa 09, 37 siswa SDN Pondok Kelapa 01, dan 31 siswa SDN Pondok Kelapa 07. Sementara itu, SMAN 91 mencatat 34 korban terdiri atas 28 siswa serta 6 guru dan tenaga kependidikan.
"Alhamdulillah kondisinya sekarang semuanya stabil, recovery (proses pemulihan), mudah-mudahan satu dua hari sudah selesai semua," tutur Pramono penuh optimisme terkait perkembangan kesehatan warga sekolah.
Baca juga:
Pramono Tinjau Kasus Dugaan Keracunan MBG di Jakarta Timur, 72 Siswa Dirawat
Menanti Hasil Uji Laboratorium
Peristiwa memilukan tersebut bermula pada Kamis (2/4) sekitar pukul 11.00 WIB. Berbeda dengan menu nasi biasanya terabaikan, menu spageti hari itu memicu antusiasme tinggi siswa untuk langsung menyantapnya. Namun, kegembiraan tersebut berakhir di ruang instalasi gawat darurat.
Pemerintah Provinsi DKI kini menunggu hasil pemeriksaan laboratorium guna memastikan kandungan berbahaya dalam menu spageti tersebut. Pramono mendesak pihak terkait memberikan pertanggungjawaban secara terbuka kepada publik demi menjaga transparansi program nasional ini.