MerahPutih.com - Kabar duka datang dari dunia musik dan aktivisme Indonesia. Johnsony Maharsak Lumban Tobing, atau lebih dikenal sebagai John Tobing, pencipta lagu ikonik “Darah Juang”, meninggal dunia pada Rabu (25/2) petang kemarin
Mantan aktivis 1998 kelahiran Binjai 1 Desember 1966 itu mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM Yogyakarta setelah sempat menjalani perawatan intensif, pukul 20.45 WIB.
Kepergian John Tobing meninggalkan kesedihan mendalam, terutama bagi kalangan aktivis lintas generasi. Bahkan, lagu “Darah Juang” telah menjadi lagu wajib dalam aksi-aksi demonstrasi mahasiswa sejak era reformasi 1998 hingga kini.
Baca juga:
Peringati 27 Tahun Reformasi, Aktivis 98 Pamerkan Tengkorak Korban Kekejaman Orba
Warisan Abadi Lagu Perjuangan
“Darah Juang” bukan sekadar karya musik, melainkan simbol perlawanan dan solidaritas mahasiswa dalam menuntut perubahan. Lagu ini pertama kali populer saat demonstrasi mahasiswa menuntut turunnya Presiden Soeharto pada Mei 1998.
Sejak era reformasi, “Darah Juang” terus bergema di berbagai aksi mahasiswa. Generasi 2000-an hingga mahasiswa masa kini masih menjadikan lagu itu sebagai pengobar semangat. Lagu ini menjadi salah satu simbol paling kuat dalam sejarah gerakan sosial Indonesia. Berikut lirik lengkapnya:
Lirik Lagu Darah Juang - John Tobing
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Tanah kami subur tuan
Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah rugah
Anak buruh tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami mengabdi
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami mengabdi
Padamu kami berjanji
Di sini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Tanah kami subur tuan
Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah rugah
Anak buruh tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami mengabdi
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami mengabdi
Di sini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Tanah kami subur tuan
Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah rugah
Anak buruh tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami mengabdi
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami mengabdi
Padamu kami berjanji
(*)