Merahputih.com - Perasaan kantuk adalah hal yang normal terjadi pada manusia. Masalahnya, jika kantuk datang kapan pun tentu itu akan sangat mengganggu. Kondisi itu disebut sebagai hypersomnia. Jika insomnia membuat seseorang sulit tidur, pengidap hypersomnia membuat pengidapnya selalu merasa ngantuk.
Hypersomnia sangat mengganggu kegiatan harian penderitanya, karena dapat mengurangi produktivitas dan menurunnya kualitas hidup. Dilansir dari laman healthline, hypersomnia memiliki tiga tipe, namun untuk penyebabnya belum bisa dipastikan.
Pertama ialah hypersomnia idiopatik, yakni kondisi di mana seseorang merasa sangat mengantuk tanpa alasan yang jelas.
Lalu hypersomnia primer atau suatu kondisi yang sumbernya adalah gangguan neurologis atau terjadi akibat gejala narkolepsi. Gejala narkolepsi ini dijelaskan karena cairan serebrospinal memproduksi molekul kecil yang sifatnya seperti obat tidur atau bius.
Baca juga:
Terakhir ialah hypersomnia sekunder, yakni suatu kondisi kantuk akibat reaksi medis, apakah itu karena depresi, sklerosis multipel (MS), kerusakan saraf akibat trauma kepala, penggunaan narkoba atau alkohol, tumor, kerusakan pada sistem saraf pusat, penggunaan obat, dan apnea tidur.
Hypersomnia makin berisiko bagi beberapa gangguan kondisi kesehatan. Webmd menjelaskan bahwa depresi dapat membuat seseorang mengalami idiopatik hypersomnia.
Ada fakta lain bahwa hypersomnia sering kali dimulai antara usia remaja pertengahan dan awal usia dua puluhan, namun kondisi ini sebenarnya bisa muncul kapan saja. Gejala mungkin menjadi lebih intens pada perempuan, karena kondisi ini mungkin memburuk sesaat sebelum menstruasi.
Hypersomnia Foundation menjelaskan bahwa 10–15 persen orang mendapati gejala hypersomnia hilang tanpa alasan yang jelas. Biasanya gejala hypersomnia meliputi kesulitan bangun dari tidur panjang, berpikir dan berbicara lambat, kesulitan mengingat sesuatu, pemarah, kecemasan, energi rendah, hingga halusinasi dalam beberapa kasus. (ayu)