Selain Insomnia, Hypersomnia juga Berbahaya untuk Kesehatan

Ikhsan Aryo DigdoIkhsan Aryo Digdo - Kamis, 04 Juli 2024
Selain Insomnia, Hypersomnia juga Berbahaya untuk Kesehatan

Jangan tidur di sore hari. (Foto: Unsplash/Andisheh A)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Merahputih.com - Perasaan kantuk adalah hal yang normal terjadi pada manusia. Masalahnya, jika kantuk datang kapan pun tentu itu akan sangat mengganggu. Kondisi itu disebut sebagai hypersomnia. Jika insomnia membuat seseorang sulit tidur, pengidap hypersomnia membuat pengidapnya selalu merasa ngantuk.

Hypersomnia sangat mengganggu kegiatan harian penderitanya, karena dapat mengurangi produktivitas dan menurunnya kualitas hidup. Dilansir dari laman healthline, hypersomnia memiliki tiga tipe, namun untuk penyebabnya belum bisa dipastikan.

Pertama ialah hypersomnia idiopatik, yakni kondisi di mana seseorang merasa sangat mengantuk tanpa alasan yang jelas.

Lalu hypersomnia primer atau suatu kondisi yang sumbernya adalah gangguan neurologis atau terjadi akibat gejala narkolepsi. Gejala narkolepsi ini dijelaskan karena cairan serebrospinal memproduksi molekul kecil yang sifatnya seperti obat tidur atau bius.

Baca juga:

Kiat Simpel Atasi Insomnia

Terakhir ialah hypersomnia sekunder, yakni suatu kondisi kantuk akibat reaksi medis, apakah itu karena depresi, sklerosis multipel (MS), kerusakan saraf akibat trauma kepala, penggunaan narkoba atau alkohol, tumor, kerusakan pada sistem saraf pusat, penggunaan obat, dan apnea tidur.

Hypersomnia makin berisiko bagi beberapa gangguan kondisi kesehatan. Webmd menjelaskan bahwa depresi dapat membuat seseorang mengalami idiopatik hypersomnia.

Ada fakta lain bahwa hypersomnia sering kali dimulai antara usia remaja pertengahan dan awal usia dua puluhan, namun kondisi ini sebenarnya bisa muncul kapan saja. Gejala mungkin menjadi lebih intens pada perempuan, karena kondisi ini mungkin memburuk sesaat sebelum menstruasi.

Hypersomnia Foundation menjelaskan bahwa 10–15 persen orang mendapati gejala hypersomnia hilang tanpa alasan yang jelas. Biasanya gejala hypersomnia meliputi kesulitan bangun dari tidur panjang, berpikir dan berbicara lambat, kesulitan mengingat sesuatu, pemarah, kecemasan, energi rendah, hingga halusinasi dalam beberapa kasus. (ayu)

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
ShowBiz
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Tanpa ragu, Jisoo mengambil sekotak susu kedelai.
Dwi Astarini - Rabu, 30 September 2026
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Indonesia
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Pada rentang waktu yang sama, katanya, gagal ginjal menduduki urutan kedua, dengan total biaya sebesar Rp 83,8 triliun yang dikeluarkan untuk membayar pelayanan kesehatan 81,2 juta kasus.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Indonesia
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Sekolah diminta tidak menjalankan aktivitas luar ruangan seolah kualitas udara dalam kondisi normal.
Dwi Astarini - Selasa, 29 September 2026
Asap Karhutla Mengancam Anak, DPR Minta Sekolah tak Nekat Gelar Aktivitas Luar Ruangan
Bagikan