MerahPutih.com - Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Raja Juli Antoni menegaskan sebagai partai nasionalis ideologis PSI tidak akan berkoalisi dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di seluruh pilkada gubernur, bupati dan wali kota di seluruh Indonesia.
"Haram bagi PSI berkoalisi dengan PKS. PSI dan PKS ibarat air dan minyak yang tidak bisa disatukan," kata Toni sapaan akrabnya dalam keterangan resmi yang diterima MerahPutih.com, Selasa (9/4).
"PSI percaya dengan demokrasi tidak boleh bekerjasama dengan PKS yang hanya menjadikan demokrasi sebagai alat untuk mendirikan pemerintahan Islam versi mereka," kata Toni menambahkan.
Perolehan elektoral PKS memang hanya sekitar 6 persen, namun menurut Toni pengaruhnya semakin besar. Hal itu tercermin dari kampanye calon presiden Prabowo Subianto yang disulap menjadi event agama yang ekslusif, seperti yang dikeluhkan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
"Bayangkan kalau PKS yang berkuasa, tidak tahu apa jadinya Indonesia," imbuhnya.
Merujuk data koalisi partai-partai di Pilkada, lanjut Toni, politik pragmatis nir-ideologis berorientasi kekuasaan belaka membuat partai-partai yang mengaku partai nasionalis tanpa beban berkoalisi dengan PKS.
"Oleh karena itu saya menghimbau semua partai nasionalis berikrar untuk tidak berkoalisi dengan PKS. Tapi saya ragu apakah partai-partai nasionalis senior mau menarik garis tegas seperti yang dilakukan PSI," tandas Toni. (Pon)