Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Sadis! Siswa SMP Korban Kekerasan Gang Motor di Mataram Meninggal

Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 27 Oktober 2026

MerahPutih.com - Seorang korban kekerasan diduga kelompok aksi geng motor meninggal dunia di ruang ICU Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H Moh Ruslan Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Iya, korban dinyatakan meninggal pada pukul 14.58 Wita,

kata Direktur Utama RSUD H Moh Ruslan Kota Mataram dr NK Eka Nurhayati di Mataram, Selasa (27/10).

Beberapa jam sebelum meninggal, korban yang siswa kelas VIII-2 SMPN 3 Mataram dengan inisial MGA dijenguk Wali Kota Mataram Mohan Roliskana bersama istri dan didampingi Dirut RSUD Kota Mataram dr NK Eka Nurhayati bersama sejumlah tim medis setempat.

Pelama perawatan hingga proses pemakaman, pihak RSUD Kota Mataram tidak mengenakan biaya kepada keluarga korban. Kebijakan itu instruksi langsung Wali Kota Mataram untuk memastikan korban mendapatkan atensi dan pelayanan maksimal.

Baca juga:

3 Jakmania Tersangka Penyerang Bus Persib Terancam 7 Tahun Bui, Pasal Kekerasan dan Pencurian


"Atas perintah Bapak Wali Kota, kami tidak kenakan biaya sepeser pun terhadap korban. Urusan perawatan di rumah sakit digratiskan. Bahkan untuk proses selanjutnya, seperti pemakaman jika diperlukan, kami berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kota Mataram untuk membantu pihak keluarga," katanya.

Selama perawatan, tim RSUD Mataram memberikan penanganan medis intensif. Dalam kejadian itu, korban mengalami luka parah di bagian kepala.

"Korban mengalami luka yang cukup besar di bagian kepala. Saat tiba di IGD, kesadaran korban sudah sangat menurun drastis, bahkan tidak sampai 30 menit kondisinya memburuk hingga mengalami pupil midriasis maksimal," katanya.

Dalam dunia kedokteran, katanya, kondisi pupil midriasis maksimal merupakan indikasi kematian batang otak, di mana fungsi vital seperti detak jantung tidak lagi menunjukkan respons normal tanpa bantuan medis.

Pihak rumah sakit telah menyampaikan kondisi sebenarnya secara transparan kepada pihak keluarga. Mengingat kondisi pasien yang kritis, pihak keluarga diberikan dua opsi yakni apakah sampai di sini saja atau mencoba penanganan perawatan suportif maksimal di ruang ICU (Intensive Care Unit) menggunakan ventilator dan alat bantu hidup, atau perawatan di tempat dengan penanganan standar.

Pihak keluarga akhirnya memilih opsi kedua untuk dirawat di ruang ICU dengan harapan adanya keajaiban pemulihan.

Selama perawatan pasien masih bergantung sepenuhnya pada alat-alat medis serta obat-obatan penstabil tekanan darah, dan belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hingga akhirnya pukul dinyatakan meninggal pukul 14.58 Wita,

katanya.
Baca Artikel Asli