Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Rupiah Tembus Rp 18.043 per Dolar AS, BI Ungkap Penyebab hingga Langkah Stabilisasi

Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 04 Juni 2026

MerahPutih.com - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan sejumlah faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada Kamis (4/6) pukul 13.05 WIB menembus level Rp 18.043 per dolar AS.

Baca juga:

Rupiah dan IHSG Terseok, Sentimen Dalam Negeri dan Duit Asing Rp 67 Triliun Keluar Jadi Pemicu

Geopolitik Timur Tengah Tekan Rupiah

Destry mengatakan, pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali mengalami eskalasi dan menghambat prospek perdamaian di kawasan tersebut.

Kondisi itu mendorong harga minyak dunia tetap berada di level tinggi, sekaligus meningkatkan risiko inflasi global dan memicu arus modal keluar dari negara-negara berkembang (emerging markets).

"Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN," ucap Destry kepada wartawan, Kamis (4/6).

BI Tingkatkan Intervensi di Pasar

Destry menegaskan Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamental ekonomi nasional.

Selain itu, BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-pasar agar tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik.

Baca juga:

Kebijakan Devisa Hasil Ekspor SDA Diyakini Jadi Penyelamat Rupiah

Menurut Destry, langkah stabilisasi dilakukan secara berkesinambungan melalui sejumlah instrumen kebijakan.

Intervensi tersebut mencakup transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif," ucapnya.

BI Perluas Penggunaan Mata Uang Lokal

Selain intervensi pasar, Bank Indonesia juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

Langkah tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.

Saat ini kerja sama LCT telah dijalankan bersama Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Destry menyebut diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT terus menunjukkan peningkatan. Pada April 2026, nilai transaksi mencapai sekitar 22,7 miliar, mendekati realisasi sepanjang tahun lalu yang berada di kisaran 25,7 miliar.

Baca juga:

BI Tidak Ingin Dolar Dominasi Devisa Hasil Ekspor, Ingin Yuan Bertambah

Meski rupiah mengalami tekanan, Destry menilai pergerakan mata uang Garuda masih sejalan dengan tren yang terjadi di kawasan regional.

"Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dgn regional, secara YTD melemah -7,44%. Cadangan devisa tetap terjaga di level USD146,2 milyar pada akhir April 2026," Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti.

(Asp)

Baca Artikel Asli