Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Reshuffle Tingkatkan Risiko Ketidakpastian Pasar

Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 20 Agustus 2024

MerahPutih.com - Presiden Joko Widodo yang tinggal dua bulan lagi menjabat melakukan reshuffle Kabinet Indonesia Maju (KIM), Senin (19/8).

Posisi Menkumham yang sebelumnya dijabat oleh Yasonna Laoly, kini diisi oleh Supratman Andi Agtas. Posisi Menteri ESDM yang sebelumnya dijabat oleh Arifin Tasrif digantikan oleh Bahlil Lahadalia.

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia digantikan oleh Rosan Roeslani. Kemudian untuk posisi Wamen Kominfo diisi oleh Angga Raka Prabowo.

Excecutive Director Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menilai, perombakan kabinet atau reshuffle dapat meningkatkan risiko ketidakpastian pasar.

Baca juga:

Soal Reshuffle, Politikus PDIP Singgung Triangle Political Game

Hal itu disebabkan adanya kemungkinan perubahan regulasi yang dilakukan dalam waktu dekat. Perubahan yang mendadak semacam ini berisiko menimbulkan dampak negatif terhadap pasar.

"Jadi kompleksitas dan ketidakpastian itu makin tinggi lagi malah dengan adanya reshuffle tadi. Jadi mungkin enggak akan terlalu berpengaruh positif sih," kata Yose dalam media briefing RAPBN 2025, di Jakarta, Senin (20/6).

Menurut Yose, meskipun aturan yang dikeluarkan pascareshuffle nanti merupakan aturan yang positif, pasar akan tetap menganggap bahwa masih terdapat ketidakpastian ke depannya.

"Dunia usaha mungkin melihatnya bahwa mereka enggak tahu nih apakah regulasi yang baru ini, yang positif ini akan terus berlangsung di kemudian hari," ujarnya.

Baca juga:

Anak Buah Prabowo Sebut Reshuffle di Akhir Pemerintahan Jokowi Justru Efisien

Senior Researcher CSIS Deni Friawan juga menilai reshuffle kabinet yang dilaksanakan Presiden Jokowi, akan berdampak secara tidak langsung ke perekonomian.

Pasar akan merespons dengan khawatir di Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tersisa satu setengah bulan lagi.

"Pasar melihatnya worry (khawatir), artinya ketidakpastian akan tinggi. Kalau itu yang akan terjadi setelah ini, ya iya," ujarnya. (*)

Baca Artikel Asli