Merahputih.com - Puncak hujan meteor Leonid 2026 diprediksi akan menghiasi langit malam secara maksimal hingga tanggal 17 November mendatang. Fenomena astronomi tahunan yang aktif dari 6 hingga 30 November ini akan menjadi tontonan bintang jatuh paling terang.
Sementara, waktu terbaik untuk mulai berburu puncak hujan meteor November ini adalah antara tengah malam hingga menjelang fajar menyingsing.
Tahun ini, pengamat langit lumayan beruntung karena fase bulan tidak akan banyak mengganggu cara melihat hujan meteor Leonid.
Baca juga:
Hujan Meteor Taurid Selatan Capai Puncak 4 - 5 November 2026, Ini Waktu Terbaik Mengamatinya
Cahaya bulan kuartal pertama bakal tenggelam lebih awal, menyisakan kondisi langit gelap yang sangat ideal untuk memantau kilatan cahaya dari sisa komet 55P/Tempel-Tuttle.
Sebagai salah satu fenomena astronomi 2026 yang paling dinanti, Leonid dikenal punya kecepatan luncur yang luar biasa dan sering kali memamerkan bola api (fireballs) terang dengan ekor panjang yang memesona melintasi rasi bintang Leo.
Leonid adalah salah satu meteor tercepat yang melesat di langit dengan kecepatan 71 kilometer per detik. Sesekali, hujan meteor ini bisa meledak menjadi badai meteor fenomenal, seperti peristiwa luar biasa pada tahun 1966 di mana tercatat ada sekitar 40 meteor yang melintas setiap detiknya,
tulis NASA.
Tahun 2026 ini sekaligus menandai peringatan 60 tahun dari badai meteor legendaris tersebut.
Berapa Banyak Meteor Leonid yang Bisa Diamati?
Dalam kondisi pengamatan yang super ideal yakni langit gelap gulita dan bebas awan, hujan meteor Leonid umumnya menghasilkan sekitar 15 meteor per jam (Zenithal Hourly Rate/ZHR).
Namun, mari kita buat ekspektasinya tetap realistis. ZHR adalah standar ukur di atas kertas. Di dunia nyata, faktor seperti polusi cahaya dari lampu kota, awan mendung, atau posisi rasi bintang sangat memengaruhi seberapa banyak bintang jatuh yang sungguhan tertangkap mata.
Jika beruntung, Anda mungkin akan melihat beberapa kilatan cantik setiap jamnya.

Lokasi dan Cara Terbaik Melihat Hujan Meteor Leonid
Nama hujan meteor biasanya diambil dari rasi bintang tempat mereka seolah-olah berasal, yang sering disebut sebagai titik radian. Untuk Leonid, bintang-bintang jatuh ini tampak memancar dari arah rasi bintang Leo di Belahan Bumi Utara.
Untuk menemukan letak Leo, Anda cukup mencari bintang terang bernama Regulus, lalu tarik garis imajiner membentuk tanda tanya terbalik yang menyerupai surai singa. Meski begitu, ada beberapa trik pengamatan santai yang bisa langsung diterapkan:
-
Jangan hanya menatap rasi Leo: Arahkan pandangan ke seluruh area langit. Meteor yang posisinya agak jauh dari titik radian justru biasanya punya ekor cahaya yang lebih panjang dan mudah dilihat.
-
Cari lokasi paling gelap: Hindari hiruk-pikuk cahaya kota. Rebahkan diri Anda, santai, dan nikmati pemandangan.
-
Biarkan mata beradaptasi: Anda tidak butuh teleskop atau teropong mahal. Cukup beri waktu sekitar 30 menit agar mata terbiasa dengan kegelapan, dan Anda sudah siap menikmati pertunjukan langit ini.
Mengungkap Asal Usul Komet 55P/Tempel-Tuttle
Hujan meteor cantik ini sebenarnya tercipta dari remah-remah es dan debu kosmik yang ditinggalkan oleh komet 55P/Tempel-Tuttle.
Komet kecil dengan inti berdiameter sekitar 3,6 kilometer ini rutin mengorbit matahari setiap 33 tahun sekali, dan dijadwalkan akan kembali mendekati bumi pada tahun 2031.
Ketika Bumi melintasi jalur puing-puing komet tersebut, partikel-partikel debu ini bergesekan keras dengan atmosfer kita. Gesekan panas inilah yang kemudian memicu kilatan cahaya indah yang selama ini kita sebut sebagai bintang jatuh.
Mengingat komet ini berstatus periodik (ditandai dengan huruf "P" yang berarti orbitnya di bawah 200 tahun), pertunjukan Leonid akan terus menjadi agenda wajib di kalender astronomi kita.