Merahputih.com - Stadion BC Place Vancouver, Kanada menjadi saksi sejarah berakhirnya penantian panjang 24 tahun runtuhnya dinasti sepak bola Pasukan Bulan Sabit-Bintang.
Riuh penonton benua Amerika siap menyambut kembalinya Timnas Turki ke panggung tertinggi sepak bola sejagat raya, Piala Dunia 2026. Minggu (14/6) pukul 11.00 WIB, generasi baru didikan tanah Anatolia siap menantang ketangguhan fisik wakil Asia, Australia.
Terakhir kali bendera Turki berkibar di ajang ini terjadi pada edisi 2002 silam di bawah asuhan pelatih lokal Senol Gunes. Kini, tongkat estafet sejarah berpindah ke tangan mantan striker legendaris Italia, Vincenzo Montella. Tangan dingin Montella sukses menyulap performa tim menjadi mesin gol menakutkan lewat pendekatan sepak bola menyerang.
Baca juga:
Prediksi Piala Dunia 2026 Grup D: Amerika Serikat dan Turki Harus Waspadai Paraguay
Turki melangkah ke putaran final usai menumbangkan Kosovo 1-0 pada babak final Playoff Jalur C zona Eropa. Menatap laga perdana Grup D, kapten tim, Hakan Calhanoglu, menyuarakan rasa percaya diri tinggi.
"Kami tahu Australia adalah tim kuat secara fisik dan berbahaya dalam situasi tendangan sudut maupun tendangan bebas karena memiliki pemain-pemain tinggi besar. Namun, saya pikir kami akan mendominasi pertandingan karena memiliki kualitas lebih baik dan tim lebih bertalenta," ujar Hakan Calhanoglu, Sabtu (13/6).
Benturan Filosofi Menyerang dan Parkir Bus
Laga besok siang menyajikan kontras strategi sangat menarik antara kedua juru taktik. Berbeda dengan karakter menyerang Montella, pelatih Australia Tony Popovic lebih memilih filosofi bermain bertahan.
Latar belakang Popovic sebagai mantan bek tengah membuat Socceroos sangat nyaman bermain tanpa bola, mengandalkan serangan balik cepat, serta memanfaatkan kelemahan pertahanan lawan.
Data kekuatan kedua tim sepanjang babak kualifikasi:
-
Produktivitas Gol Turki: Membukukan 18 gol dari delapan laga kualifikasi, rata-rata 2,25 gol per pertandingan.
-
Kemenangan Terbesar Turki: Melumat Bulgaria 6-1 dan menundukkan Georgia 4-1.
-
Kontribusi Bintang Muda: Tiga gol dicetak penyerang Juventus Kenan Yildiz, serta satu gol plus empat assist dari gelandang Real Madrid Arda Guler.
-
Kekuatan Pertahanan Australia: Hanya kebobolan tujuh gol dari 10 laga, menjadi tim pertahanan terbaik kedua Asia bersama Uzbekistan.
-
Titik Lemah Turki: Lini belakang rapuh, sempat kebobolan total 12 gol selama kualifikasi termasuk kekalahan telak 0-6 dari Spanyol.
Ujian Konsistensi Pasukan Bulan Sabit-Bintang
Modal mentereng membayangi langkah tim Eropa Timur ini berkat catatan rekor sembilan laga terakhir tanpa kekalahan. Pada dua laga pemanasan terbaru, Turki sukses memetik kemenangan 4-0 atas Makedonia Utara serta membungkam Venezuela 2-1.
Baca juga:
Timnas Thailand U-19 Pede Bisa Kalahkan Australia di Final ASEAN U-19 Championship 2026
Sebaliknya, grafik persiapan Australia tampak kurang memuaskan setelah menelan kekalahan 0-1 dari Meksiko dan bermain imbang 1-1 kontra Swiss.
Meski diunggulkan lewat statistik pertemuan masa lalu, Montella enggan bersikap jemawa. Mantan pelatih Fiorentina ini menilai persaingan grup bersama Amerika Serikat dan Paraguay ini sangat merata.
"Saya pikir ini adalah grup sangat seimbang, keempat tim tentu berharap bisa lolos fase grup. Sejujurnya, saya tidak merasa ada tim lebih kuat atau lebih lemah dibanding tim lainnya. Kalau pun ada perbedaan, mungkin justru kami bisa dianggap sebagai tim keempat di antara mereka," ungkap Montella merendah.