PJ Morton Ajak Jalan-Jalan Keliling Afrika dalam ‘Cape Town to Cairo’

Rabu, 19 Juni 2024 - Dwi Astarini

MERAHPUTIH.COM - MUSIM gugur lalu, musisi peraih Grammy asal New Orleans PJ Morton menginjakkan kaki di Benua Afrika. Tanpa membawa draft musik, lirik, dan ekspetasi apa pun, Morton memulai petualangannya, hanya bermodalkan mimpi liar untuk bisa membuat sebuah album dalam kurun waktu sebulan.

Dalam misinya, ia ingin memasukkan dirinya ke beraneka ragam budaya, cerita, dan komunitas yang ia temui. Mulai lah ia menjelajah dalam perjalanan panjangnya yang ia mulai dari Cape Town dan Johannesburg di Afrika Selatan, ke Lagos (Nigeria), Accra (Ghana), Kairo (Mesir), lalu kembali lagi ke Afrika Selatan. Perjalanan unik ini menghasilkan album Cape Town to Cairo.

“Aku ingin menangkap perasaan yang aku alami selama berada di benua tersebut sehingga aku berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak menulis draft lagu ataupun lirik apa-apa sebelum sampai Afrika, dan juga sebaliknya, aku tidak akan menulis apa apa setelah aku pulang, termasuk menyelesaikan rekaman vokalku,” kata Morton dalam keterangan resmi yang diterima Merahputih.com.

Baginya, peroses pembuatan album ini merupakan sebuah eksperimen agar ia mempercayai instingnya. “Sama seperti banyak orang lainnya, aku juga memiliki kecenderungan untuk suka overthinking, jadi untuk kali ini aku ingin memicu sesuatu yang memiliki nilai taruhan yang besar,” imbuhnya.

Baca juga:

Kaleb J dan PJ Morton Kisahkan Akhir Hubungan dalam ‘Please Don’t Walk Away’

Album terbaru Morton ini menjadi wadah baginya untuk berkolaborasi dengan banyak musisi lainnya, seperti Fireboy DML, Mádé Kuti, Asa, Ndabo Zulu, dan Soweto Spiritual Singers. Selain itu, album ini juga menampilkan produser musik P Priime dan The Cavemen, live band milik PJ Morton sendiri, dan musisi-musisi lokal Afrika.

Di album Cape Town to Cairo, PJ Morton menggunakan musik sebagai bahasa utama yang paling kuat. “Ada unsur-unsur musik R&B, soul, tapi juga ada lagu yang memiliki pengaruh lainnya, seperti musik gospel dapat terdengar di lagu berjudul Simunye, unsur pop ada di Count On Me, serta jazz pada All The Dreamers. Semua ini bisa tergabung dalam sebuah album karena inspirasi yang aku dapatkan yang datang dari Afrika,” imbuhnya.

Morton menghubungkan New Orleans ke Lagos pada lagu Smoke & Mirrors yang direkam satu hari setelah perayaan ulang tahun Fela Kuti, seorang musisi dan aktivis legendaris dari Nigeria. Ada juga Please Be Good dan Simunye (We Are One) yang turut menampilkan Soweto Spiritual Singers. Kedua lagu ini membawa ciri khas musik asli Afrika.

"Pada akhirnya, Cape Town to Cairo merupakan sebuah diaspora berbentuk musik yang dilakukan sesuai keinginanku,” tutup Morton.(dwi)

Baca juga:

Jelang Hajatan Java Jazz 2022, PJ Morton Gandeng Kaleb J di Single 'Please Don't Walk Away'

Bagikan

Baca Original Artikel
Bagikan