Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup

Vaksin Kanker Moderna Tunjukkan Hasil Positif, Buka Harapan Baru Pengobatan Melanoma

ImanK - Kamis, 20 Agustus 2026

MerahPutih.com - Moderna cancer vaccine menunjukkan hasil positif dalam uji klinis tahap akhir untuk pasien melanoma atau kanker kulit.

Vaksin kanker terbaru berbasis teknologi mRNA yang dikembangkan Moderna bersama Merck tersebut berhasil memenuhi target utama dalam uji klinis fase 3.

Terapi bernama intismeran autogene itu diberikan bersama Keytruda (pembrolizumab), obat imunoterapi milik Merck.

Kombinasi tersebut secara signifikan memperpanjang waktu pasien bebas dari kekambuhan melanoma dibandingkan penggunaan Keytruda saja. Terapi juga menurunkan risiko kanker menyebar ke bagian tubuh lain.

Hasil ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan vaksin kanker personal. Namun, data lengkap penelitian belum dipublikasikan dan hasil yang diumumkan perusahaan masih menunggu pemaparan lebih lanjut dalam forum medis serta proses peninjauan independen.

Baca juga:

Program Sejuta Vaksin Kanker Serviks Bakal Diperluas ke Seluruh Indonesia

Apa Itu Moderna Cancer Vaccine?

Berbeda dari vaksin untuk mencegah infeksi seperti vaksin flu atau COVID-19, Moderna cancer vaccine merupakan terapi yang dirancang secara khusus untuk pasien kanker.

Teknologi ini memanfaatkan mRNA untuk mengajarkan sistem kekebalan tubuh mengenali mutasi tertentu pada sel kanker pasien.

Setiap tumor memiliki karakteristik genetik yang berbeda, sehingga vaksin dibuat berdasarkan profil tumor masing-masing pasien.

Untuk membuat vaksin tersebut, sampel tumor pasien dianalisis setelah operasi. Informasi mengenai mutasi tumor kemudian digunakan untuk merancang vaksin mRNA yang ditujukan untuk memicu respons imun terhadap sel kanker yang masih mungkin tersisa.

Dengan pendekatan tersebut, sistem kekebalan tubuh diharapkan dapat mengenali dan menyerang sel kanker secara lebih spesifik.

Uji Klinis Libatkan Lebih dari 1.100 Pasien

Uji klinis fase 3 INTerpath-001 melibatkan 1.137 pasien dengan melanoma kulit stadium IIB hingga IV yang tumornya telah diangkat melalui operasi. Pasien tersebut memiliki risiko tinggi mengalami kekambuhan.

Baca juga:

Vaksin HPV Mulai Menyasar Siswa Laki-Laki, Ini 3 Manfaatnya Bagi Kesehatan

Dalam penelitian, pasien mendapatkan kombinasi intismeran autogene dan Keytruda atau Keytruda saja.

Hasil sementara menunjukkan kombinasi vaksin personal dan imunoterapi memenuhi target utama berupa peningkatan recurrence-free survival (RFS) atau periode tanpa kekambuhan. Target penting lainnya, distant metastasis-free survival (DMFS), juga tercapai.

Dengan kata lain, pasien yang menerima kombinasi terapi memiliki waktu lebih panjang sebelum melanoma kembali dan menyebar ke organ lain dibandingkan pasien yang hanya menerima Keytruda.

Bukan Sekadar Vaksin Kanker Biasa

Ilustrasi
Ilustrasi kanker (Foto: Pexels/Leeloo The First)

Salah satu keunggulan pendekatan ini terletak pada sifatnya yang personal. Vaksin tidak dibuat dengan formula yang sama untuk seluruh pasien, melainkan disesuaikan dengan mutasi yang ditemukan pada tumor masing-masing pasien.

Pendekatan tersebut berbeda dari kemoterapi yang dapat menyerang sel sehat dan sel kanker sekaligus. Vaksin kanker personal justru bertujuan mengarahkan respons sistem kekebalan terhadap karakteristik tertentu yang terdapat pada sel tumor.

Intismeran autogene kemudian dipadukan dengan Keytruda. Obat tersebut bekerja dengan membantu sistem imun mempertahankan kemampuan untuk menyerang sel kanker.

Vaksin kanker moderna juga berpotensi untuk jenis kanker lain, keberhasilan pada melanoma menjadi penting karena Moderna dan Merck tidak hanya mengembangkan terapi tersebut untuk kanker kulit.

Keduanya juga menguji intismeran autogene pada non-small cell lung cancer (NSCLC). Pengembangan terapi serupa juga dilakukan untuk kanker kandung kemih dan ginjal, sementara penelitian pada beberapa jenis kanker lainnya masih berada pada tahap lebih awal.

Jika hasil dari berbagai penelitian tersebut kembali positif, teknologi mRNA berpotensi digunakan untuk mengembangkan terapi kanker yang lebih personal berdasarkan karakteristik tumor setiap pasien.

Baca juga:

Influenza Masih Mengancam, Ahli: Vaksin Trivalent Jadi Kunci Perlindungan

Apakah Moderna Cancer Vaccine Sudah Bisa Digunakan?

Belum. Hasil positif fase 3 merupakan langkah penting, tetapi belum berarti intismeran autogene sudah tersedia sebagai pengobatan kanker secara luas.

Moderna dan Merck masih perlu menyelesaikan proses penelitian dan menyampaikan data lengkap kepada regulator.

Perusahaan juga belum mengungkapkan seluruh hasil penelitian, termasuk data mengenai overall survival atau berapa lama pasien secara keseluruhan dapat bertahan hidup.

Karena itu, hasil terbaru ini sebaiknya dipandang sebagai perkembangan menjanjikan, bukan sebagai bukti bahwa vaksin tersebut sudah menjadi obat kanker yang tersedia bagi masyarakat.

Meski demikian, keberhasilan uji fase 3 memberikan dorongan besar bagi pengembangan vaksin kanker berbasis mRNA.

Jika hasil akhirnya konsisten, pendekatan ini dapat membuka jalan menuju pengobatan kanker yang semakin disesuaikan dengan kondisi biologis masing-masing pasien.

Baca Artikel Asli