MerahPutih Nasional- Menteri Ketahanan, Ryamizard Ryacudu memandang penggunaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) harus berdasarkan hakekat ancaman. Karena itu Menhan menilai pengadaan alutsista harus dilakukan secara seksama, efektif dan efisien.
"Ancaman apa, yaitu kita cari, apa untuk mengatasinya dan alat apa yang diperlukan,” kata Menhan seperti dilansir dari situs setkab.go.id, seusai mengikuti sidang kabinet yang membahas tentang Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), di kantor Presiden, Jakarta, Selasa (30/12) siang.
Purnawiranan Jenderal Bintang empat ini menambahkan, ancaman itu ada yang nyata dan ada yang belum nyata atau sedikit sekali kemungkinan. Yang belum nyata itu, kata dia, adalah perang terbuka atau perang besar antara negara . Namun Menhan menilai, kemungkinan itu sangat kecil, mungkin tidak ada.
Ditegaskan Menhan, Indonesia bukan negara invasi, atau negara agresor. Karena itu, pemerintah memandang perang bagi Indonesia adalah mempertahankan negara dan bangsa.
"Itu perang bagi kita, tidak ada perang selain itu. Artinya, perang yang kita laksanakan adalah pertahanan atau perang semesta. Jadi seluruh bangsa mempertahankan bangsa dan negara,” papar Ryamizard.
Menurut Menhan, perang yang nyata yang mungkin terjadi, dan dua bulan sebelumnya sudah bisa dinyatakan. Namun ia juga menyebutkan ada sejumlah ancaman yang juga perlu diperhatikan, seperti aksi teror, bencana alam, pencurian ikan, pelanggaran wilayah dan perompakan di laut, dan penyebaran penyakit. Selain itu, lanjut Menhan, juga ada perang cyber, perang intelijen.
"Sekarang sudah berangsur, kita tidak terasa, padahal itu adalah perang. Kemarin, Amerika dengan Korea Utara. Tidak terasa tetapi itu berbahaya, sewaktu-waktu negara itu berantakan bisa jadi. Ini perlu saya kira waspadai," demikian Menhan. (MP/BHD)