Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup

Melihat kembali Gejolak Reformasi di ‘ANTARA Mei 98’

Dwi Astarini - Sabtu, 03 Juni 2023

SEBUAH foto nan dicetak di atas plastik setinggi 180 cm menyambut para pengunjung saat memasuki koridor Lobi Timur Pos Bloc, Jakarta, dari arah Great Hall. Imaji di dalamnya menampilkan dua mahasiswa membawa bendera Merah-Putih, berdiri di atas kubah gedung MPR/DPR. Mereka merupakan bagian para mahasiswa yang menduduki gedung parlemen dalam sebuah aksi pada 1998 silam.

Pendudukan Gedung MPR/DPR oleh mahasiswa terjadi pada 18 Mei 1998. Ribuan mahasiswa berhasil memasuki dan menduduki Gedung MPR/DPR. Mereka menuntut Presiden Soeharto mundur dan pelaksanaan Sidang Istimewa MPR untuk mengganti Soeharto. Sejumlah tokoh nasional turut bergabung di Gedung MPR/DPR, mendukung gerakan mahasiswa. Kian hari jumlah mahasiswa dan aktivis di Gedung MPR/DPR semakin bertambah.

BACA JUGA:

XX Tahun Reformasi-Segenggam Refleksi, lewat Foto Mengingat 20 Tahun Pembaruan

Demonstrasi itu berbuah. Pada 21 Mei 1998, Soeharto akhirnya menyatakan pengunduran diri dari jabatan presiden. “Dari kisahnya, foto ini mengingatkan saya akan foto dari peristiwa Iwo Jima. Secara tersirat semangat dan gesturnya ada kemiripan dengan foto pengibaran bendera Amerika Serikat di Iwo Jima karya Joe Rosenthal,” kata kurator pameran foto ANTARA Mei 98, Ismar Patrizki, saat berbincang dengan Merahputih.com, Jumat (2/6).

ANTARA Mei 98
Pameran 'ANTARA Mei 98' digelar sebagai peringatan 25 tahun reformasi.(foto: Instagram @gfja)

Ismar menjelaskan mahasiswa yang membawa bendera ke atas kubah Gedung MPR/DPR dalam usaha menduduki gedung parlemen di Mei 1998 itu seperti memiliki kemiripan dengan foto peristiwa penaikan bendera karya Rosenthal nan memenangi Hadiah Pulitzer itu. “Kubah hijau gedung parlemen terasa mirip dengan bukit di Iwo Jima. Demikian pula dengan bendera yang berkibar gegap gempita menyambut keberhasilan sebuah usaha pendudukan,” imbuhnya.

Satu foto itu menjadi pembuka dalam pameran foto jurnalistik ANTARA Mei 98 yang digelar di Lobi Timur Pos Bloc, Jakarta, 30 Mei-4 Juni 2023. Pameran foto yang digagas LKBN ANTARA melalui Galeri Foto Jurnalistik Antara dan Redaksi Foto Kantor Berita ANTARA ini digelar sebagai peringatan 25 tahun Reformasi, dengan menghadirkan 25 karya jepretan para pewarta foto ANTARA. “Pameran bukan untuk membuka luka lama, melainkan sebagai pengingat sejarah. Dengan begitu, generasi yang lahir setelah 1998 tidak ahistoris, tidak lupa akan sejarah," kata Ismar.

BACA JUGA:

Membedah Sosok Kontroversial Snouck Hurgronje

Foto-foto hitam-putih yang ditampilkan di pameran ini merupakan karya para pewarta foto ANTARA yang berada di garis depan saat peristiwa Mei 1998, yakni Saptono, Maha Eka Swasta, Zarqoni Maksum, Pandu Dewantara, Jaka Sugiyanta, Mosista Pambudi, Yusnirsyah Sirin, Oscar Motuloh, Hermanus Prihatna, Hadiyanto, dan Ali Anwar. Dari bidikan kamera mereka terekam aksi mahasiswa turun ke jalan, kerusuhan mencekam di Mei 98, hingga aksi mahasiswa yang menuntut reformasi.

"Begitu Soeharto bilang, ‘saya berhenti’, semua meluapkan kegembiraan. Mungkin itu momen, yang menurut banyak orang, merupakan yang terbaik. Karena di situ ada mahasiswa yang bergembira dan di situ ada Soeharto sedang dalam tayangan langsung di TV," cerita Saptono tentang foto karyanya yang merekam momen ketika mahasiswa bersorak gembira sembari menonton mantan Presiden RI Soeharto membacakan surat pengunduran dalam siaran langsung di televisi pada 21 Mei 1998. Momentum itu menjadi titik awal babak baru sejarah di Tanah Air. Melahirkan era Reformasi.

Ia mengatakan semua momen terkait Mei 1998 yang diabadikan oleh pewarta foto ANTARA merupakan bagian dari sejarah, tidak hanya foto karyanya tersebut.

Foto-foto dalam pameran ANTARA Mei 98, menurutnya, menjadi pengingat agar momen serupa Mei 1998 tidak terulang kembali di kemudian hari. "Ini merupakan perjalanan Reformasi yang menelan banyak korban dan ini bisa terekam baik oleh ANTARA. Oleh karena itu, sejarah itu, kalau bisa, tidak terulang seperti hal ini seperti yang pernah terjadi di 98. Begitu banyak sekali pengorbanannya," jelas Saptono dalam keterangan resmi yang diterima Merahputih.com.

Demi menyampaikan pesan tentang perjuangan mahasiswa dalam peristiwa Mei 98, Ismar mengatakan membuat tampilan beberapa foto yang sedikit berbeda. “Agar tidak monoton dan menarik perhatian anak muda masa kini, beberapa foto pilihan kami respons dengan tulisan ‘Reformasi 25 Tahun’,” jelasnya.

Kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara ini mengatakan pameran ANTARA Mei 98 sekaligus menjadi sebuah tribute bagi para pewarta foto senior ANTARA yang telah berjibaku merekam dan mengabadikan momen Mei 98. “Pameran ini juga merupakan sebuah bentuk persembahan kami kepada para mahasiswa dan aktivis 1998,” tutupnya.(dwi)

BACA JUGA:

Berani Baru, Membawa Ruang Pamer Foto ke Realitas Virtual

Baca Artikel Asli