Mariposa, Ambisi Berlebih Orang Tua Kepada Putranya
Minggu, 20 Juni 2021 -
IQBAL Guanna Freddy mematung saat ayahnya berceloteh tentang kian memburuknya nilai mata pelajaran di sekolah. Ia diminta tetap fokus belajar demi meraih prestasi di sekolah dan terpenting, menjadi pemuncak olimpiade Sains antarSMA Tingkat Nasional. Iqbal diberi peringatan keras untuk tidak pacaran.
"Kalau anak muda sudah mengenal cinta pasti plin-plan dengan tujuan hidup," kata ayahnya. "Tinggalkan pacarmu, balik ke penginapan, belajar!".
Baca juga:
Larangan keras ayahnya membuat Iqbal bimbang. Di satu sisi ia, meski semula tak sudi menerima cinta Acha, mulai menaruh hati, sementara peruah keras ayahnya memang jadi tujuan utama hidupnya menjadi juara olimpiade.
Kisah pertautan ambisi meraih prestasi akademik dan cinta jadi kekuatan film Mariposa. Film drama komedi romantis disutradarai Fajar Bustomi tersebut kembali menduetkan pasangan di film Dua Garis Biru, Angga Yunanda dan Zara JKT48.
Angga Yunanda berperan sebagai Iqbal Guanna Freddy, seorang laki-laki tampan dan pintar tetapi memiliki sikap sangat cuek dan dingin. Berbanding terbalik dengan sosok Natasha Kay Loovy atau Acha diperankan Zara JKT48, merupakan seorang siswi selalu ceria, periang, dan lugu.
Film Mariposa tidak hanya menceritakan kisah asmara di bangku SMA tetapi juga memperlihatkan bagaimana sikap orang tua berpengaruh besar pada perilaku dan kondisi psikis anak-anak mereka.
Acha, meski terlihat lugu, punya ambisi kuat terhadap sesuatu dan sangat serius saat ingin mewujudkannya. Ia berjuang keras agar beroleh perhatian Iqbal, walau sering ditolak mentah-mentah.
Terlalu bersemangat terhadap Iqbal membuat Acha tak lagi fokus terhadap pelajaran sehingga sering melamun di tengah kegiatan belajar-mengajar.
Hal tersebut berbading terbalik dengan cowok kesukannya. Iqbal selalu fokus terhadap pelajaran lantaran tak pernah menggubris perhatian Acha terhadapnya. Iqbal punya tuntutan besar dari ayahnya agar menjadi murid terbaik di sekolah, menjuarai olimpiade sains, dan melanjutkan kuliah di luar negeri.
Ayahnya sering membanding-bandingkan Iqbal dengan anak temannya dengan prestasi akademik mentereng. Bahkan ketika Iqbal mewakili sekolahnya dengan masuk ke dalam tim Olimpiade sains untuk lomba nasional, ayahnya masih tetap meremehkannya dan mengatakan seharusnya bisa mendapatkan nilai bagus untuk semua mata pelajaran sains dan tidak hanya satu.
Ocehan ayahnya membuat Iqbal selalu merasa tertekan bahkan sampai sering sakit. Kebebasan Iqbal sangat dibatasi dan dituntut untuk belajar terus menerus bahkan ponselnya sering disita ayahnya.
“Hanya orang dengan bakat istimewa yang mendapat tempat di dunia ini. Be the best or be nothing at all,” ujar ayahnya berulang-ulang kepada Iqbal.
Iqbal jadi pribadi kaku, serius, bahkan cenderung tak bisa diajak bercanda. Kondisi tersebut bahkan meluap saat saat Iqbal menangis dan marah ketika gurunya bercanda berkata SMA Arwana tak lolos tahap final olimpiade sain. "Mati gue," kata Iqbal sembari membayangkan teror ayahnya sekaligus trauma lantaran pernah gagal menang di ajang tersebut.
Berkebalikan dengan Iqbal, Acha merupakan anak gadis dengan dukungan penuh orangtua agar sang anak bebas melakukan hal-hal diinginkannya.
Baca juga:
Acha tidak pernah dipaksa untuk belajar lebih atau bahkan dituntut untuk mengikuti lomba sains. Semua dilakukan Acha selalu atas dasar kemauannya sendiri dan bukan karena orang tuanya. Ia tumbuh menjadi anak ceria dan hangat.
Acha mendapatkan tawaran dari Henry Kusuma (Irgi Fahrezi) sebagai orang menawarkan beasiswa sekolah sains ke luar negeri untuk anak-anak berprestasi, tetapi ditlaknya karena cita-citanya tidak untuk menjadi ilmuwan tetapi untuk menjadi psikolog anak. Mendengar Acha berani mengemukakan pendapat dan pilihannya sendiri, Iqbal tergerak untuk berani berpendapat juga.
Iqbal berbicara secara terbuka kepada ayahnya mengenai stres dialaminya. Ketika ayahnya hampir murka, teman ayahnya Henry Kusuma langsung menasihati untuk tidak telalu memaksakan kehendaknya kepada Iqbal.
Film Mariposa bukan hanya khusus remaja, melainkan orangtua agar tahu kata hati anak. Orang tua akan belajar tentang telalu menekan kemampuan anak menjadi sempurna tekadang membuat buah hatinya menjadi tertekan dan berpengaruh pada lingkungan sosial sang anak.
Dari Iqbal dan ayahnya, penonton belajar terkadang orang tua menuntut mimpi mereka sendiri nan gagal tercapai kepada anaknya. (Tel)
Baca juga:
Terang-Terangan soal ‘Sweet Home’, Song Kang: Saya Sangat Tertekan