MerahPutih.com - Pemerintah mewaspadai lonjakan kasus COVID-19 setelah Natal dan Tahun Baru.
Bahkan, perayaan yang bisa memicu kerumunan masyarakat dalam jumlah besar bakal dilarang.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi sekaligus Koordinator PPKM Jawa-Bali Luhut Binsar Panjaitan menyebut, pesta akhir tahun berpotensi memicu kenaikan kasus konfirmasi COVID-19.
"Diimbau agar kita tidak kembali mengulang pengalaman buruk pada masa yang lalu akibat kelalaian kita," kata Luhut dalam keterangannya, Senin (15/11).
Baca Juga:
Waspadai Kenaikan Pergerakan, PPKM Jawa-Bali Tetap Berlaku Sampai 29 November
Menurutnya, kesiapan segala aspek baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi untuk diperhitungkan dari sekarang.
Kesuksesan dalam menahan kenaikan kasus COVID-19 pada periode Natal dan Tahun Baru 2021, lanjutnya, akan menentukan keberlanjutan pemulihan ekonomi Indonesia ke depan.
"Saya kembali mengajak kita semuanya untuk tidak egois dan saling berbesar hati agar kita sama-sama bisa menaati kembali protokol kesehatan," katanya.
"Apa yang telah kita perjuangkan bersama selama ini layak untuk terus dijaga dan tidak dilupakan hanya karena kejenuhan dan keegoisan kita semua," imbuh Luhut.
Saat ini, lanjut Luhut, indikator Google Mobility yang memantau pergerakan masyarakat di Jawa-Bali menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan di atas periode Nataru tahun lalu.
"Bahkan mendekati posisi periode Idul Fitri pada Mei-Juni 2021," ujarnya.
Baca Juga:
Menko Airlangga Jelaskan Status Terbaru PPKM Luar Jawa-Bali
Luhut meminta semua pihak waspada karena terdapat indikasi peningkatan Rt (angka reproduksi efektif) yang menunjukkan sinyal peningkatan kasus di Jawa-Bali dalam sepekan terakhir ini.
Hal ini juga dapat terlihat dari beberapa kabupaten/kota di Jawa Bali yang mulai mengalami peningkatan kasus dan perawatan mingguan.
Khusus wilayah Jawa-Bali terdapat 29 persen kabupaten/kota yang mengalami peningkatan kasus dibandingkan minggu lalu.
Selain itu, ada 34 persen kabupaten/kota yang mengalami peningkatan orang yang dirawat dibandingkan minggu lalu.
Luhut juga meminta seluruh masyarakat tetap hati-hati mengingat masih ada 47 persen kabupaten/kota di Jawa Bali yang suntikan dosis pertama vaksinasi untuk lansianya masih di bawah 50 persen.
Selain itu, 75 persen kabupaten/kota di Jawa Bali yang suntikan vaksinasi dosis keduanya masih di bawah 50 persen. (Knu)
Baca Juga:
Turun Level PPKM, Angka Pengguna KRL Yogyakarta-Solo Akhir Pekan Melesat