Merahputih.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (13/7) sore mengalami pelemahan hingga 44 poin atau 0,24 persen menjadi Rp18.109 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.065 per dolar AS.
Baca juga:
Sentimen Kecerdasan Buatan Selamatkan Wajah IHSG Pagi Ini, Saham Unggulan LQ45 Ikut Merangkak Naik
Sentimen negatif akibat eskalasi militer di Timur Tengah memaksa nilai tukar rupiah bertekuk lutut menghadapi gempuran dolar Amerika Serikat. Investor berbondong-bondong mengamankan aset safe haven, meninggalkan mata uang negara berkembang dalam posisi tertekan.
Teheran menargetkan fasilitas AS di negara-negara di seluruh Teluk pada hari Minggu (12/7) dan mengatakan telah kembali menutup Selat Hormuz,
ujar Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi.
Rincian Kejatuhan Kurs Rupiah dan Indikator Pasar
Kondisi saling serang menggunakan rudal serta drone antara Amerika Serikat dan Iran memicu kepanikan luar biasa di sektor perdagangan valuta asing.
Hambatan logistik jalur laut global kini berada di depan mata akibat ketegangan militer tersebut.
Data lengkap pergerakan nilai tukar rupiah beserta indikator pasar uang sore ini:
-
Penutupan Kurs Rupiah: Melemah sebesar 44 poin atau setara 0,24 persen.
-
Nilai Kurs Sore Ini: Berada pada level Rp18.109 per dolar AS.
-
Posisi Kurs Sebelumnya: Bertengger pada angka Rp18.065 per dolar AS.
-
Kurs Jisdor Bank Indonesia: Melorot ke level Rp18.131 per dolar AS.
-
Posisi Kurs Jisdor Sebelumnya: Berada pada level Rp18.069 per dolar AS.
-
Pemicu Utama Geopolitik: Serangan rudal dan drone Iran ke fasilitas Amerika Serikat pada hari Minggu (12/7/2026).
-
Dampak Jalur Logistik: Pemblokiran kembali Selat Hormuz oleh pihak militer Teheran.
Ancaman Inflasi Global dan Kebijakan Federal Reserve
Konflik bersenjata ini merusak rencana masa depan perjanjian sementara AS-Iran hasil negosiasi intensif selama 60 hari pada bulan lalu.
Pembatalan pembukaan Selat Hormuz memicu kekhawatiran datangnya guncangan inflasi jilid baru akibat kenaikan biaya logistik dunia.
Spekulasi pasar kini mengarah pada potensi kebijakan ketat bank sentral Amerika Serikat terkait pengelolaan suku bunga acuan.
Baca juga:
Risalah pertemuan Federal Reserve bulan Juni menunjukkan kekhawatiran mendalam para pembuat kebijakan terhadap tekanan inflasi tinggi.
Sinyal mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama kini semakin menguat di kalangan pejabat bank sentral.
“Beberapa pembuat kebijakan percaya ada alasan untuk menaikkan suku bunga, sementara para pejabat secara umum menyatakan kekhawatiran lebih besar atas tekanan inflasi bahkan ketika kekhawatiran tentang pasar tenaga kerja mereda,” tutur Ibrahim Assuaibi.