MERAHPUTIH.COM — PIALA Dunia FIFA musim panas ini yang digelar di Amerika Serikat dan Meksiko berpotensi terganggu gelombang kekerasan kartel narkoba yang pecah pada Minggu (22/2).
Kartel narkoba Jalisco New Generation (CJNG), salah satu organisasi kriminal paling kuat dan ditakuti di negara itu, terlibat baku tembak dengan militer Meksiko, memblokade jalan, dan membakar kendaraan sebagai respons atas tewasnya pemimpin mereka, Nemesio Oseguera Cervantes, yang lebih dikenal sebagai ‘El Mencho’, dalam operasi militer.
Kekerasan bermula di Negara Bagian Jalisco, wilayah tengah-barat yang kini berstatus kode merah keamanan. Kekerasan bahkan telah menyebar ke sedikitnya selusin wilayah lain. Video yang beredar daring menunjukkan pria bersenjata berpatroli di jalanan dan asap membubung di atas sejumlah kota. Sedikitnya 25 anggota Garda Nasional tewas dalam waktu 24 jam.
Guadalajara, ibu kota Jalisco yang berpenduduk lebih dari satu juta orang, dijadwalkan menjadi tuan rumah empat pertandingan pada turnamen musim panas ini. Lima pertandingan lainnya dijadwalkan di Mexico City, dan empat di Monterrey.
“Ketika menekan kartel, Anda akan mendapat perlawanan. Bahayanya ialah situasi keamanan bisa sangat sulit dikendalikan jika semakin memburuk,” kata Javier Eskauriatza, asisten profesor hukum pidana di University of Nottingham, dikutip BBC Sport.
Kekosongan kekuasaan akibat tewasnya El Mencho dapat memicu periode ketidakstabilan dan konflik lanjutan ketika para calon pengganti bersaing memperebutkan posisi tersebut. “Secara umum, kartel memiliki kepentingan ekonomi agar Piala Dunia berlangsung damai,” tambah Eskauriatza.
Menurutnya, meski para anggota kartel menyuap politisi dan polisi lokal, mereka juga membeli restoran dan memiliki hotel. “Mereka ialah bagian dari sistem ekonomi. Akan menguntungkan bagi mereka jika warga Inggris, Amerika, dan lainnya datang ke Meksiko, membelanjakan uang mereka, dan bersenang-senang,” imbuhnya.
CJNG diperkirakan bernilai lebih dari 10 miliar pound sterling atau sekira Rp 227 triliun dan memiliki puluhan ribu anggota. Sejak dibentuk pada 2009, kartel ini bertanggung jawab atas serangkaian pembantaian, penculikan, dan pembunuhan politisi. Namun, beberapa tokoh kartel masih memiliki tingkat popularitas tertentu di komunitas lokal karena memberikan pendanaan bagi infrastruktur dan fasilitas setempat.
Pemerintah AS telah menyarankan warganya di Jalisco untuk tetap berlindung di dalam ruangan hingga pemberitahuan lebih lanjut. Kanada, sesama tuan rumah Piala Dunia, membatalkan penerbangan ke Bandara Puerto Vallarta, dan aplikasi pelacakan penerbangan menunjukkan banyak pesawat kembali ke bandara asalnya di berbagai belahan dunia.
“Dari sisi wisatawan, saya akan mengatakan ada risiko tingkat sedang. Kecuali ada operasi militer tambahan minggu ini, saya memperkirakan otoritas di wilayah yang paling terdampak dapat menangani potensi risiko sehingga secara keseluruhan saya berharap wisatawan tetap aman selama mengikuti arahan otoritas,” ,” kata Dr Karina Garcia-Reyes, dosen senior kriminologi di UWE Bristol, dikutip BBC Sport.
Amankah bagi Penonton Indonesia untuk Datang ke Meksiko?
Meski para ahli menilai risiko terhadap turis berada pada level sedang dan kartel memiliki kepentingan agar ajang global tetap berjalan damai, peringatan dari pemerintah AS dan pembatalan sejumlah penerbangan menunjukkan situasi masih dinamis.
Bagi fans Indonesia yang berencana hadir langsung, beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti:
- Memantau advis perjalanan resmi dari Kementerian Luar Negeri RI.
- Mengikuti pembaruan keamanan dari otoritas lokal Meksiko dan FIFA.
- Menghindari wilayah terdampak langsung konflik serta membatasi mobilitas di luar zona resmi pertandingan.
Jika stabilisasi keamanan berhasil dalam beberapa minggu mendatang, dampaknya terhadap penyelenggaraan Piala Dunia mungkin dapat ditekan. Namun, bila kekerasan berlanjut akibat perebutan kekuasaan kartel, risiko ketidakpastian tetap menjadi faktor yang perlu diantisipasi para suporter internasional, termasuk penonton Indonesia.(dwi)