Merahputih.com - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengevaluasi total penyelenggaraan Jakarta International Marathon 2026 (JAKIM). Langkah ini diambil setelah peristiwa meninggalnya salah satu peserta akibat dugaan serangan jantung dan dehidrasi berat, Rabu (24/6).
Tragedi maut ini tetap terjadi meski panitia telah menambah jumlah personel medis hingga 35 persen daripada tahun lalu.
Baca juga:
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berjanji membenahi fasilitas penanganan kesehatan pada ajang olahraga internasional ini. Pramono menegaskan keseriusan pemerintah daerah dalam memetakan ulang SOP penyelamatan atlet di lintasan lari.
“Jadi tentunya kita akan memperbaiki hal itu terutama dalam hal perawatan dan juga ketersediaan kesehatan,”
Pramono Anung.
Lonjakan Panggilan Gawat Darurat Serentak
Pramono mengklaim fasilitas JAKIM sebenarnya sudah mumpuni daripada ajang lari lain bentukan Pemprov DKI. Ketersediaan ambulans, dokter, hingga perawat dinilai sudah memenuhi standar prima.
Namun, evaluasi menyeluruh tetap berjalan demi mencegah kejadian serupa terulang kembali masa depan.
Edisi BTN JAKIM 2026 kali ini justru mencatat penurunan jumlah peserta. Ironisnya, risiko fatalitas justru meningkat akibat faktor cuaca ekstrem Jakarta.
Tim medis menghadapi situasi krusial pada hari kedua perlombaan akibat penumpukan insiden kesehatan secara bersamaan.
Kewalahan Hadapi Tantangan Lintasan
Medical Director BTN JAKIM dokter Andhika Raspati memimpin langsung 257 personel kesehatan tahun ini. Tim super intensif ini tersebar pada 10 tenda medis, 21 ambulans, serta 40 titik bergerak (roaming medic) sepanjang rute perlombaan.
Komposisi petugas melibatkan dokter spesialis kedokteran olahraga, spesialis anestesi, fisioterapis, hingga paramedis terlatih.
"Rencana kerja kami sudah disetujui oleh Technical Delegate dari Federasi World Athletics," kata Andhika.
Baca juga:
32 Ruas Jalan di Jakarta Bakal Ditutup saat Gelaran BTN JAKIM 2025
Namun, Andhika mengakui timnya kewalahan menghadapi lonjakan panggilan gawat darurat secara simultan berbagai titik lintasan.
Kondisi tersebut memaksa petugas melakukan pemilahan (triage) ketat berdasarkan tingkat fatalitas pasien. Akibat penumpukan kasus ini, mobilisasi ambulans membutuhkan waktu respons lebih lama menuju lokasi korban.