Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Indonesia Butuh Petani Milenial

Alwan Ridha Ramdani - Senin, 01 Februari 2021

MerahPutih.com - Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian mencatat petani muda di Indonesia yang berusia 20-39 tahun hanya berjumlah 2,7 juta orang atau sekitar 8 persen dari total jumlah petani di Indonesia.

Sementara, data data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2019, jumlah petani muda tercatat terjadi penurunan 415.789 orang dari periode 2017 ke 2018.

Dan, berdasarkan pernyataan Institut Pertanian Bogor (IPB), Indonesia dapat mengalami krisis petani karena petani yang tersisa umurnya sudah mendekati usia 56 tahun sehingga hasil pertanian menjadi kurang produktif.

Baca Juga:

Unik, Petani Jepang Gunakan Burung Hantu Untuk Pengendali Hama

Anggota Komisi IV DPR Hermanto menegaskan, perlu dorongan agar anak muda jadi petani, dengan sentuhan teknologi canggih dan pemutakhira sektor pertanian. Teknologi diyakini meningkatkan regenerasi petani di Nusantara.

"Perlu dilakukan upaya menarik minat kaum milenial agar tertarik terjun ke pertanian," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Hermanto mengingatkan bahwa tenaga kerja sektor pertanian kecenderungannya terus berkurang. Kepada para milenial, perlu diyakinkan bahwa sektor pertanian menjanjikan masa depan yang cerah.

Ia menyebutkan, pembangunan pertanian tidak bisa dihentikan karena manusia perlu makan. Sehingga, peningkatan produktivitas pertanian saat ini tidak bisa dilakukan dengan cara tradisional.

"Perlu ada sentuhan berbagai teknologi. Agar bisa menggunakan teknologi tersebut maka kapasitas petani dan penyuluh secara periodik perlu ditingkatkan," ucapnya.

Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Asna Mustofa mengingatkan regenerasi petani sangat penting dilakukan guna mendukung program pertanian berkelanjutan.

Pertanian. (Foto: Antara)
Pertanian. (Foto: Antara)

"Regenerasi petani memang diperlukan guna mendukung program pertanian berkelanjutan dan mendukung program ketahanan pangan," katanya.

Asna yang merupakan dosen Fakultas Pertanian Unsoed tersebut mengatakan perlu dibuat berbagai program yang inovatif guna menarik minat petani muda atau milenial. Selain itu, teknologi pertanian juga dapat mendukung peningkatan produksi dan efisiensi.

"Teknologi tidak harus canggih, tetapi yang sepadan. Dalam arti teknologi yang sesuai kebutuhan. Teknologi yang terlalu tinggi akan butuh biaya yang tinggi, sehingga harus disesuaikan juga dengan lahan yang akan digarap," katanya dikutip Antara. (*)

Baca Juga:

Padi Sehat Organik Kunci Kemandirian Petani Indonesia

Baca Artikel Asli