MerahPutih.com – Musibah menimpa para pembudidaya ikan di Waduk Kedung Ombo, Boyolali, setelah sebanyak 10 ton ikan Keramba Jaring Apung (KJA) mati mendadak sejak Jumat (24/7). Akibat kejadian ini, kerugian ditaksir mencapai Rp 247 juta.
Baca juga:
Warga Kedung Ombo, Boyolali, Gugat Presiden Prabowo soal Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto
Asisten 2 Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Boyolali, Ahmad Gojali, menjelaskan fenomena ini dipicu oleh upwelling, yakni pengangkatan air bawah waduk ke permukaan akibat musim kemarau.
Peristiwa alam ini berdampak buruk dan memicu kerugian besar bagi para pembudidaya. Faktor perubahan lingkungan menjadi pemicu utama musibah tersebut,
Asisten 2 Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Boyolali, Ahmad Gojali, Senin (27/7).
Rincian Kerugian Nelayan Waduk Kedung Ombo
Data hingga Minggu (26/7) mencatat total ikan mati mencapai 10 ton, dialami oleh 15 petani pembudidaya yang tergabung dalam Pokdakan Mina Mandiri.
-
Karper: 8 ton, kerugian Rp200 juta
-
Nila: 1 ton, kerugian Rp27 juta
-
Patin: 1 ton, kerugian Rp20 juta
Secara keseluruhan, kerugian materiil mencapai Rp247 juta.
Baca juga:
Peristiwa Desa Wadas, Demokrat Ungkit Kasus Kedung Ombo Era Soeharto
Faktor Lingkungan dan Antisipasi
Indikasi awal menunjukkan upwelling dipicu oleh angin sore hingga malam dari wilayah Ngasinan, Sragen. Ribuan ikan keramba keracunan akibat perubahan kualitas air.
Untuk meminimalisasi dampak, para pembudidaya melakukan langkah darurat seperti mengalirkan air segar dengan pompa serta menggeser keramba ke lokasi lebih aman. Pemkab Boyolali juga memberikan bantuan unit pompa air dan menyiapkan kompensasi ganti rugi.
Baca juga:
Pemerintah Daerah juga mengimbau agar pembudidaya mengurangi pakan di musim kemarau serta meningkatkan kewaspadaan terhadap fluktuasi cuaca ekstrem.
Kami mengimbau agar pembudidaya KJA terus meningkatkan kewaspadaan terhadap pergerakan arus angin yang berpotensi memicu fenomena upwelling,” pungkas Gojali. (Ismail/Jawa Tengah)