Merahputih.com - Lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) memulai hari dengan langkah gontai di tengah ketidakpastian ekonomi global. Langkah kaki para pialang saham tampak tertahan, mencerminkan keraguan mendalam menghadapi dinamika pasar modal belakangan ini.
Sinar hijau dari pasar Wall Street semalam rupanya belum cukup kuat memacu nyali investor domestik untuk melakukan aksi beli agresif pada pembukaan IHSG yang melemah pada perdagangan Selasa (30/6) pagi.
Baca juga:
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung tergelincir 19,34 poin atau 0,33 persen ke posisi 5.801,45. Seirama dengan indeks utama, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 mendarat di zona merah setelah terpangkas 4,02 poin atau 0,70 persen ke level 568,99.
“Apabila rebound terjadi, IHSG berpotensi menguji resistance 5.996-6.013. Namun, apabila support 5.722 gagal dipertahankan, risiko koreksi lebih dalam menuju 5.677 hingga 5.594 masih terbuka,”
ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata.
Rudal Selat Hormuz dan Teka-Teki Suku Bunga
Ketegangan geopolitik Timur Tengah kembali menyita perhatian pasar keuangan internasional setelah aksi saling serang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz.
Meski Presiden AS Donald Trump mengklaim pihak Iran mengajukan pertemuan diplomatik di Doha, Doha membantah agenda negosiasi tersebut. Kondisi ini meningkatkan premi risiko global walaupun belum memicu kepanikan massal.

Investor global saat ini memfokuskan perhatian pada rilis data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls) guna membaca arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed).
Ketidakpastian tersebut memicu perpindahan dana besar-besaran dari aset berisiko. Berdasarkan data Deutsche Bank, produk ETF dan reksa dana berbasis teknologi mencatat arus modal keluar (outflow) sebesar Rp153,45 triliun (9,3 miliar dolar AS) akibat aksi diversifikasi investor.
Berikut rincian pergerakan bursa saham global dan regional perdagangan terakhir:
-
Bursa Saham Wall Street (AS): Dow Jones naik 0,59%, S&P 500 melesat 1,17%, Nasdaq Composite melonjak 2,07%.
-
Bursa Saham Eropa: Euro Stoxx 50 naik 0,04%, FTSE 100 Inggris turun 0,21%, DAX Jerman turun 0,20%, CAC 40 Prancis turun 0,20%.
-
Bursa Saham Regional Asia Pagi Ini: Nikkei Jepang menguat 0,54% ke 69.885,00; Shanghai China turun 0,33% ke 4.060,48; Hang Seng Hongkong anjlok 1,39% ke 22.757,00; Strait Times Singapura turun 0,40% ke 5.187,90.
Guyuran Amunisi Likuiditas Domestik
Menghadapi tekanan eksternal, Pemerintah Indonesia bergerak cepat memperkuat benteng ekonomi dalam negeri melalui bauran kebijakan fiskal dan moneter.
Kementerian Keuangan memutuskan mengembalikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp110 triliun ke perbankan Himbara, menjaga total penempatan dana pemerintah tetap berada pada angka Rp281 triliun hingga akhir Desember 2026.
Pemerintah bahkan menyiapkan dana siaga (standby facility) tambahan senilai Rp100 triliun untuk menyokong likuiditas perbankan akibat pertumbuhan kredit Mei 2026 mencapai 11,5% secara tahunan (YoY).
Baca juga:
Rupiah dan IHSG Kompak Melemah, Stabilitas Makroekonomi Jangka Pendek Jadi Kunci
Langkah pengetatan moneter Bank Indonesia melalui kenaikan BI Rate sebesar 100 bps sepanjang 2026 juga mulai membuahkan hasil nyata dalam menarik minat pemodal global. Masuknya dana investasi asing menjadi katalis positif penahan koreksi bursa domestik lebih lanjut.
Data realisasi kebijakan moneter dan fiskal nasional:
-
Aliran Modal Asing SBN & SRBI: Menyerap dana asing sekitar Rp148,5 triliun (9 miliar dolar AS) hingga 26 Juni 2026.
-
Injeksi Dana SAL Kemenkeu: Pengembalian Rp110 triliun dana likuiditas ke bank-bank milik negara.
-
Total Dana Pemerintah di Bank: Terjaga pada angka Rp281 triliun dengan masa perpanjangan sampai Desember 2026.
-
Dana Siaga Kredit Likuiditas: Penyediaan tambahan dana Rp100 triliun penopang ekspansi kredit perbankan nasional.
Kombinasi masuknya arus modal asing serta sokongan likuiditas pemerintah diyakini mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, pasar obligasi, dan kinerja sektor perbankan menghadapi sentimen negatif jangka pendek.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data PMI Manufaktur, angka inflasi Juni, serta neraca perdagangan Indonesia guna menentukan arah investasi selanjutnya.