IHSG Hari Ini Jeblok Saat Wall Street Pesta Pora, Investor Saham Ramai-Ramai Tahan Duit

Angga Yudha PratamaAngga Yudha Pratama - 2 jam, 42 menit lalu
IHSG Hari Ini Jeblok Saat Wall Street Pesta Pora, Investor Saham Ramai-Ramai Tahan Duit

Ilustrasi (Pexels/StockRadars)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Merahputih.com - Lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) memulai hari dengan langkah gontai di tengah ketidakpastian ekonomi global. Langkah kaki para pialang saham tampak tertahan, mencerminkan keraguan mendalam menghadapi dinamika pasar modal belakangan ini.

Sinar hijau dari pasar Wall Street semalam rupanya belum cukup kuat memacu nyali investor domestik untuk melakukan aksi beli agresif pada pembukaan IHSG yang melemah pada perdagangan Selasa (30/6) pagi.

Baca juga:

IHSG Hari Ini Longsor ke Level 5.801 Bareng Indeks Saham LQ45, Rupiah Keok Dekati Rp18.000 Per Dolar AS

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung tergelincir 19,34 poin atau 0,33 persen ke posisi 5.801,45. Seirama dengan indeks utama, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 mendarat di zona merah setelah terpangkas 4,02 poin atau 0,70 persen ke level 568,99.

Apabila rebound terjadi, IHSG berpotensi menguji resistance 5.996-6.013. Namun, apabila support 5.722 gagal dipertahankan, risiko koreksi lebih dalam menuju 5.677 hingga 5.594 masih terbuka,

ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata.

Rudal Selat Hormuz dan Teka-Teki Suku Bunga

Ketegangan geopolitik Timur Tengah kembali menyita perhatian pasar keuangan internasional setelah aksi saling serang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz.

Meski Presiden AS Donald Trump mengklaim pihak Iran mengajukan pertemuan diplomatik di Doha, Doha membantah agenda negosiasi tersebut. Kondisi ini meningkatkan premi risiko global walaupun belum memicu kepanikan massal.

Bursa

Investor global saat ini memfokuskan perhatian pada rilis data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls) guna membaca arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed).

Ketidakpastian tersebut memicu perpindahan dana besar-besaran dari aset berisiko. Berdasarkan data Deutsche Bank, produk ETF dan reksa dana berbasis teknologi mencatat arus modal keluar (outflow) sebesar Rp153,45 triliun (9,3 miliar dolar AS) akibat aksi diversifikasi investor.

Berikut rincian pergerakan bursa saham global dan regional perdagangan terakhir:

  • Bursa Saham Wall Street (AS): Dow Jones naik 0,59%, S&P 500 melesat 1,17%, Nasdaq Composite melonjak 2,07%.

  • Bursa Saham Eropa: Euro Stoxx 50 naik 0,04%, FTSE 100 Inggris turun 0,21%, DAX Jerman turun 0,20%, CAC 40 Prancis turun 0,20%.

  • Bursa Saham Regional Asia Pagi Ini: Nikkei Jepang menguat 0,54% ke 69.885,00; Shanghai China turun 0,33% ke 4.060,48; Hang Seng Hongkong anjlok 1,39% ke 22.757,00; Strait Times Singapura turun 0,40% ke 5.187,90.

Guyuran Amunisi Likuiditas Domestik

Menghadapi tekanan eksternal, Pemerintah Indonesia bergerak cepat memperkuat benteng ekonomi dalam negeri melalui bauran kebijakan fiskal dan moneter.

Kementerian Keuangan memutuskan mengembalikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp110 triliun ke perbankan Himbara, menjaga total penempatan dana pemerintah tetap berada pada angka Rp281 triliun hingga akhir Desember 2026.

Pemerintah bahkan menyiapkan dana siaga (standby facility) tambahan senilai Rp100 triliun untuk menyokong likuiditas perbankan akibat pertumbuhan kredit Mei 2026 mencapai 11,5% secara tahunan (YoY).

Baca juga:

Rupiah dan IHSG Kompak Melemah, Stabilitas Makroekonomi Jangka Pendek Jadi Kunci

Langkah pengetatan moneter Bank Indonesia melalui kenaikan BI Rate sebesar 100 bps sepanjang 2026 juga mulai membuahkan hasil nyata dalam menarik minat pemodal global. Masuknya dana investasi asing menjadi katalis positif penahan koreksi bursa domestik lebih lanjut.

Data realisasi kebijakan moneter dan fiskal nasional:

  • Aliran Modal Asing SBN & SRBI: Menyerap dana asing sekitar Rp148,5 triliun (9 miliar dolar AS) hingga 26 Juni 2026.

  • Injeksi Dana SAL Kemenkeu: Pengembalian Rp110 triliun dana likuiditas ke bank-bank milik negara.

  • Total Dana Pemerintah di Bank: Terjaga pada angka Rp281 triliun dengan masa perpanjangan sampai Desember 2026.

  • Dana Siaga Kredit Likuiditas: Penyediaan tambahan dana Rp100 triliun penopang ekspansi kredit perbankan nasional.

Kombinasi masuknya arus modal asing serta sokongan likuiditas pemerintah diyakini mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, pasar obligasi, dan kinerja sektor perbankan menghadapi sentimen negatif jangka pendek.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data PMI Manufaktur, angka inflasi Juni, serta neraca perdagangan Indonesia guna menentukan arah investasi selanjutnya.

#IHSG #Harga Saham #Indeks Saham #Pergerakan Saham #Pasar Saham
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
IHSG Hari Ini Jeblok Saat Wall Street Pesta Pora, Investor Saham Ramai-Ramai Tahan Duit
Investor global saat ini memfokuskan perhatian pada rilis data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls) guna membaca arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS
Angga Yudha Pratama - 2 jam, 42 menit lalu
IHSG Hari Ini Jeblok Saat Wall Street Pesta Pora, Investor Saham Ramai-Ramai Tahan Duit
Indonesia
Rupiah dan IHSG Kompak Melemah, Stabilitas Makroekonomi Jangka Pendek Jadi Kunci
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menegaskan pentingnya menjaga stabilitas makroekonomi dalam merespons dinamika global yang penuh ketidakpastian.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 30 Juni 2026
Rupiah dan IHSG Kompak Melemah, Stabilitas Makroekonomi Jangka Pendek Jadi Kunci
Indonesia
IHSG Hari Ini Longsor ke Level 5.801 Bareng Indeks Saham LQ45, Rupiah Keok Dekati Rp18.000 Per Dolar AS
Tekanan eksternal membuat posisi mata uang Garuda sulit keluar dari zona merah pada perdagangan jangka pendek
Angga Yudha Pratama - Selasa, 30 Juni 2026
IHSG Hari Ini Longsor ke Level 5.801 Bareng Indeks Saham LQ45, Rupiah Keok Dekati Rp18.000 Per Dolar AS
Indonesia
Tok, Jeffrey Hendrik Dirut BEI Sampai 2030! Target Harus Masuk 10 Bursa Raksasa Dunia
Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi memasuki babak baru setelah Jeffrey Hendrik dikukuhkan sebagai Direktur Utama periode 2026–2030 melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) hari ini.
Wisnu Cipto - Senin, 29 Juni 2026
Tok, Jeffrey Hendrik Dirut BEI Sampai 2030! Target Harus Masuk 10 Bursa Raksasa Dunia
Indonesia
Enam Perusahaan Beraset Kakap Siap Lepas Saham Perdana ke Publik, Pasar Modal Indonesia Siap Meledak
Geliat ini sekaligus mengukuhkan posisi Indonesia sebagai salah satu pasar finansial paling dinamis di Asia Tenggara
Angga Yudha Pratama - Senin, 29 Juni 2026
Enam Perusahaan Beraset Kakap Siap Lepas Saham Perdana ke Publik, Pasar Modal Indonesia Siap Meledak
Indonesia
IHSG Hari Ini Terjebak Fase Konsolidasi, Ramalan Purbaya Yudhi Sadewa Soal Ekonomi 8 Persen Picu Perdebatan
Penandatanganan kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat bersama Iran menjadi angin segar bagi kelancaran arus logistik komoditas dunia
Angga Yudha Pratama - Senin, 29 Juni 2026
IHSG Hari Ini Terjebak Fase Konsolidasi, Ramalan Purbaya Yudhi Sadewa Soal Ekonomi 8 Persen Picu Perdebatan
Indonesia
IHSG Mengamuk Dekati Level 6.000, Aksi Borong Saham Murah Selamatkan Muka Bursa Efek Indonesia
Aksi borong saham murah memicu seluruh lini usaha bergerak naik tanpa perkecualian
Angga Yudha Pratama - Kamis, 25 Juni 2026
IHSG Mengamuk Dekati Level 6.000, Aksi Borong Saham Murah Selamatkan Muka Bursa Efek Indonesia
Indonesia
Rupiah Hampir Jebol ke Rp 18.000, IHSG Langsung Kejang-Kejang Masuk Zona Merah pada Penutupan Perdagangan Rabu (24/6)
Status Indonesia pada ulasan Morgan Stanley Capital International (MSCI) belum mengalami perubahan positif, sehingga bursa domestik kehilangan daya dongkrak jangka pendek
Angga Yudha Pratama - Rabu, 24 Juni 2026
Rupiah Hampir Jebol ke Rp 18.000, IHSG Langsung Kejang-Kejang Masuk Zona Merah pada Penutupan Perdagangan Rabu (24/6)
Indonesia
IHSG Merosot 3%, Hampir 600 Saham Emiten BEI Berguguran
IHSG jatuh 3,07% ke level 5.915,27 pada perdagangan Rabu. Hampir 600 saham terkoreksi, seluruh sektor di BEI berada di zona merah, dipicu ekspektasi hawkish bank sentral global.
Wisnu Cipto - Rabu, 24 Juni 2026
IHSG Merosot 3%, Hampir 600 Saham Emiten BEI Berguguran
Indonesia
Bursa Efek Indonesia Terancam Kehilangan Netralitas, Pengamat UI Sebut Kemenkeu dan BI Bisa Main Mata
Keterlibatan negara pada satu sisi memang berdampak positif bagi penguatan modal serta percepatan pembangunan infrastruktur pasar
Angga Yudha Pratama - Selasa, 23 Juni 2026
Bursa Efek Indonesia Terancam Kehilangan Netralitas, Pengamat UI Sebut Kemenkeu dan BI Bisa Main Mata
Bagikan