Merahputih.com - Laju pergerakan IHSG hari ini terpaksa ditutup anjlok ke zona merah dengan penurunan tajam sebesar 3,78 persen ke level 4.904,29 pada Selasa (3/11) sore.
Penyebab IHSG turun secara signifikan ini sangat dipengaruhi oleh sikap investor yang kompak menahan diri dari aset berisiko (risk off), mengekor tren negatif yang sedang melanda mayoritas bursa saham Asia.
Pelemahan indeks saham gabungan ini turut menyeret turun kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 yang ikut terkoreksi hingga 3,98 persen ke posisi 497,27.
Baca juga:
Tumbangnya sentimen pasar saham domestik ini sebenarnya bukan tanpa alasan, mengingat ada tekanan berat yang menular langsung dari bursa global.
Para pelaku pasar saat ini sedang merespons negatif saham teknologi AI di Wall Street, akibat kekhawatiran terkait biaya pengeluaran kecerdasan buatan yang kelewat raksasa namun belum memberikan kepastian pengembalian modal yang jelas.
Alhasil, aksi jual besar-besaran di sektor teknologi Amerika Serikat ini merembet cepat dan membuat IHSG ditutup melemah seiring kepanikan investor di bursa regional Asia.
Bayang-bayang Wall Street dan Pemilu AS
Selain urusan saham teknologi, fokus para investor juga sedang terpecah ke arah perpolitikan internasional. Pelaku pasar cenderung mengambil posisi hati-hati menjelang pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat. Dinamika politik ini memicu spekulasi terkait tingginya biaya energi yang bisa mengerek inflasi dan memaksa bank sentral untuk kembali menaikkan suku bunga.
Di sisi lain, pergerakan harga komoditas juga turut mewarnai sentimen hari ini. Harga minyak mentah dan Brent sempat diperdagangkan di kisaran 96 hingga 104 dolar AS per barel, sedikit mereda setelah ada sinyal positif dari hubungan diplomatik Amerika Serikat dan Iran.
Para pemimpin dari kedua belah pihak mengisyaratkan untuk melanjutkan negosiasi perdamaian. Tanda-tanda kemajuan diplomatik antara AS dan Iran meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan lebih lanjut,
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas.
Alarm Dalam Negeri: Efek El Nino dan Daya Beli yang Lesu
Beralih ke dalam negeri, tekanan terhadap IHSG juga diperparah oleh rilis data ekonomi yang kurang menggembirakan. Lonjakan inflasi pangan pada Oktober 2026 yang menembus angka 5,81 persen menjadi bukti nyata bahwa gangguan pasokan akibat anomali iklim El Nino masih jauh dari kata usai.
Menariknya, di saat inflasi pangan melesat, inflasi inti justru melandai ke angka 2,56 persen. Bukannya disambut baik, penurunan ini malah ditangkap sebagai sinyal waspada oleh pasar karena mencerminkan melemahnya daya beli masyarakat (demand-pull), khususnya di kalangan menengah ke bawah.
"Konsumen kini cenderung memangkas belanja non-esensial (tersier dan sekunder) karena pendapatan mereka habis terserap untuk memenuhi kebutuhan pokok," tambah Nico.
Rapor Merah Bursa: 11 Sektor Kompak Tumbang
Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG memang sempat dibuka menguat, namun langsung terperosok ke zona merah dan gagal bangkit hingga bel penutupan berbunyi. Berikut adalah ringkasan data perdagangan saham di BEI hari ini:
-
Kinerja Sektor: Seluruh (sebelas) indeks sektoral IDX-IC kompak memerah. Penurunan paling parah dipimpin oleh sektor barang baku (-5,86%), disusul sektor energi (-4,56%) dan sektor industri (-4,26%).
-
Volume Transaksi: Tercatat ada 1,37 juta kali transaksi yang melibatkan 11,72 miliar lembar saham, dengan total nilai mencapai Rp26,59 triliun.
-
Pergerakan Saham: Hanya 69 saham yang berhasil naik, sementara 717 saham hancur lebur, dan 177 saham lainnya stagnan.
-
Top Gainers: TMPO, MKNT, AIMS, BSWD, dan BLTZ.
-
Top Losers: AEGS, IBOS, MEJA, MGLV, dan EURO.
Lesunya IHSG ini sejalan dengan tren di bursa regional Asia sore ini, di mana indeks Nikkei (-0,33%), Kospi (-3,59%), Shanghai (-0,82%), dan Strait Times (-0,65%) semuanya ditutup melemah, dan hanya indeks Hang Seng yang berhasil mengamankan zona hijau tipis (+0,57%).