MerahPutih.com - Beredar sebuah pesan berantai di WhatsApp yang menyebut bahwa minuman dengan merek coca-cola dilarang dikonsumsi oleh manusia.
Disebutkan bahwa minuman ringan Coca-cola yang diproduksi oleh The Coca-Cola Company Amerika Serikat ini akan dipindahkan ke kategori 'pembersih limbah' berdasarkan keputusan Komisi Kualitas Makanan dan Minuman Pemerintah Pusat Tiongkok.
Baca juga:
NARASI
“Di Tiongkok, Coca-Cola akan dijual sebagai pembersih limbah, bukan diminum. Minuman ringan Coca-Cola yang diproduksi oleh The Coca-Cola Company Amerika Serikat akan dipindahkan ke kategori “pembersih limbah” berdasarkan keputusan Komisi Kualitas Makanan dan Minuman Pemerintah Pusat Tiongkok.
Coca-Cola dan minuman sejenis, sekarang diklasifikasikan sebagai cairan sanitasi yang direkomendasikan untuk membersihkan pipa…
Keputusan tegas tersebut didorong oleh penelitian ilmiah terhadap kandungan minuman tersebut dan dampaknya terhadap kesehatan manusia”
FAKTA
Berdasarkan hasil penelusuran Turn Back Hoaks (Mafindo), informasi yang menyebutkan Coca-cola dipindahkan dalam kategori pembersih limbah adalah tidak benar.
Ditelusuri menggunakan mesin pencarian dengan memasukan kata kunci. Ditemukan beberapa artikel yang memuat bantahan informasi tersebut. Klaim China menggolongkan Coca-Cola sebagai cairan pembersih bersumber dari situs Rusia, Panorama, yang menerbitkan artikel-artikel satire.
Baca juga:
[HOAKS atau FAKTA]: Prabowo Tolak Pindahkan Ibu Kota dari Jakarta ke IKN
Artikel satire tentang Coca-Cola diklasifikasikan sebagai cairan pembersih di China dipublikasikan oleh Panorama pada 2018. Pada bagian bawah artikel terdapat catatan yang menjelaskan konten situs itu adalah parodi dan bukan berita asli.
Dengan demikian, Informasi yang salah ini berasal dari situs parodi Rusia dan tidak memiliki dasar faktual. Coca-Cola terus menjadi minuman populer di seluruh dunia, termasuk di Tiongkok.
Sehingga masuk dalam kategori konten yang menyesatkan.
KESIMPULAN
Artikel satire tentang Coca-Cola diklasifikasikan sebagai cairan pembersih di China dipublikasikan oleh Panorama pada 2018.
Pada bagian bawah artikel terdapat catatan yang menjelaskan konten situs itu adalah parodi dan bukan berita asli. (Knu)