MerahPutih.com - Ketidaksempurnaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Ia hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari emosi yang bergejolak, keputusan yang keliru, cara pandang yang terus berubah, hingga hubungan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Dari ruang-ruang kosong dan ketidakpastian itulah Hermione merangkai album penuh perdana bertajuk Trying My Best But It’s Not The Best That I Could Give. Karya tersebut lahir dari pergulatan batin, kegelisahan, serta usaha untuk tetap bertahan ketika hidup tidak bergerak seperti yang diinginkan.
Album berisi 11 lagu ini menjadi penanda fase penting dalam perjalanan karier Hermione. Melalui rilisan debut tersebut, unit midwest emo asal Tangerang itu menjadikan berbagai pengalaman sulit sebagai sesuatu yang layak dikenang sekaligus dirayakan.
Baca juga:
Danilla Maknai Terang dan Gelap Kehidupan Lewat Album Candramawa
Tetap Berakar pada Midwest Emo
Dari sisi musikalitas, Hermione masih mempertahankan akar midwest emo yang selama ini melekat sebagai identitas mereka. Permainan gitar twinkle yang khas dan melodi emosional tetap menjadi fondasi utama dalam album ini.
Namun, dibandingkan karya-karya sebelumnya, Hermione mencoba memperluas pendekatan musikal melalui penggunaan synth dan berbagai elemen digital yang lebih dominan.
Eksplorasi tersebut menghadirkan warna baru dalam musik mereka sekaligus menunjukkan perkembangan artistik setelah dikenal luas di skena musik alternatif lokal berkat karakter sound yang unik.
“Kami coba lebih eksploratif di penggunaan plugin dan synth. Biar kayak semi White Chorus dan mengarah ke eleventwelfth juga sih. Karena memang reference kami juga mau coba kayak Skrillex yang sotoy banyak sound-sound aneh,” Hermione.
Album yang Menjadi Ruang Pelampiasan Emosi
Lebih dari sekadar eksplorasi musikal, album ini menjadi wadah bagi Hermione untuk menuangkan berbagai keresahan yang mereka alami.
Keraguan, rasa lelah, ketakutan, hingga usaha untuk terus bertahan menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh lagu dalam album tersebut. Nuansa itu terasa kuat dalam sejumlah trek utama yang menjadi representasi tema besar album.
Remah-Remah Anggur
Lagu ini berbicara tentang seseorang yang berada di titik terendah dalam hidupnya. Perasaan tertekan, putus asa, dan kelelahan menjadi bagian dari narasi yang dibangun.
Meski demikian, lagu ini tetap menyisakan secercah harapan yang membuat karakter di dalamnya terus melangkah.
For More Years Ahead (I Hope So)
Melalui lagu ini, Hermione mengangkat kecemasan akan kehilangan sosok yang selama ini menjadi tempat pulang.
Di balik rasa takut tersebut, tersimpan harapan sederhana agar kebersamaan yang ada dapat bertahan lebih lama.
Hey, How U Doin?
Sementara itu, lagu ini menceritakan pertemuan kembali dengan seseorang dari masa lalu.
Lebih dari sekadar nostalgia, lagu tersebut juga menggambarkan proses menerima kenyataan bahwa tidak semua hubungan harus dipertahankan.
Baca juga:
Joji Rilis Album 'Piss In The Wind' Deluxe Edition, Hadirkan 9 Lagu Baru dan Kolaborasi Bintang
“(Melalui album ini) Kami benar-benar mau cerita dan meluapkan semuanya,” tegas Hermione.
Narasi yang dibangun dalam album ini juga diperkuat melalui aspek visual. Artwork yang dikerjakan oleh Rizky Bagus menampilkan empat anak kucing yang merepresentasikan para personel Hermione.
Berbagai elemen visual yang mengelilingi ilustrasi tersebut menjadi simbol dari rasa minder, tekanan hidup, keresahan personal, hingga semangat untuk terus berjalan di tengah berbagai kekacauan yang dihadapi.
Di balik proses kreatif album ini, Hermione turut menyampaikan apresiasi kepada keluarga, sahabat, rekan musisi, komunitas, serta berbagai pihak yang telah mendukung perjalanan mereka.
Bagi Hermione, Trying My Best But It’s Not The Best That I Could Give bukan sekadar kumpulan lagu. Album ini menjadi dokumentasi perjalanan emosional para personel yang merekam berbagai fase kehidupan, kegelisahan, serta harapan yang tumbuh di tengah ketidaksempurnaan. (Far)