Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Harga Pertamax Melonjak, Pertalite Jadi 'Buruan' dan Rentan Disalahgunakan

Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 10 Juni 2026

MerahPutih.com - Kenaikan harga Pertamax hingga menembus Rp 16.250 per liter dinilai berpotensi mengubah pola konsumsi bahan bakar masyarakat. Pengamat kebijakan publik Riko Noviantoro memprediksi semakin banyak konsumen yang beralih dari Pertamax ke Pertalite untuk menekan pengeluaran sehari-hari.

Peneliti Kebijakan Publik dari Institute for Development of Policy and Local Partnership (IDP-LP) itu menilai pergeseran konsumsi BBM menjadi salah satu dampak yang perlu diantisipasi pemerintah.

"Yang perlu kita antisipasi adalah perpindahan customer Pertamax menjadi pengguna Pertalite," kata Riko kepada wartawan, Rabu (9/6).

Baca juga:

Harga Pertamax Naik Tajam, Anggaran Subsidi BBM Berpotensi Meningkat

Perpindahan Konsumen Dinilai Bisa Tekan Ketersediaan Pertalite

Menurut Riko, meningkatnya jumlah pengguna Pertalite berpotensi memengaruhi ketersediaan BBM subsidi di lapangan.

Lonjakan permintaan yang terjadi akibat perpindahan konsumen dari BBM nonsubsidi ke subsidi dikhawatirkan dapat menekan stok dan memperbesar beban subsidi energi yang selama ini ditanggung pemerintah.

"Fenomena ini akan berdampak pada ketersediaan Pertalite, yang kemudian mengalami lonjakan karena ada perpindahan customer dari Pertamax ke Pertalite," Pengamat kebijakan publik, Riko Noviantoro.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu menyiapkan langkah antisipatif agar perubahan perilaku konsumen tidak memicu gangguan distribusi maupun peningkatan beban subsidi secara signifikan.

Baca juga:

Kenaikan Harga Pertamax Tak Diantisipasi, Migrasi Besar-besaran ke Pertalite Bisa Terjadi

Riko menilai upaya penghematan bahan bakar perlu menjadi perhatian bersama, baik oleh masyarakat maupun pemangku kepentingan lainnya.

Menurutnya, penggunaan BBM yang lebih efisien tidak hanya membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan energi nasional.

"Semua warga negara harus berusaha melakukan penyadaran terhadap bersikap hemat penggunaan bahan bakar," ujarnya.

Ia menambahkan, kesadaran untuk menghemat energi menjadi semakin penting di tengah dinamika ekonomi dan perubahan harga energi yang terjadi saat ini.

Waspadai Penimbunan dan Pengoplosan BBM

Selain dampak terhadap konsumsi, Riko juga mengingatkan potensi penyimpangan yang kerap muncul ketika terjadi kenaikan harga bahan bakar.

Menurutnya, selisih harga yang semakin lebar antara BBM subsidi dan nonsubsidi dapat dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk mencari keuntungan melalui praktik ilegal.

Ia menyoroti kemungkinan terjadinya penimbunan, penyalahgunaan distribusi, hingga pengoplosan BBM yang dapat merugikan masyarakat dan negara.

Karena itu, aparat penegak hukum diminta memperketat pengawasan terhadap distribusi bahan bakar di berbagai daerah.

"Saya berharap aparat penegak hukum dapat melakukan pengawasan secara ketat terhadap aksi-aksi penumpukan bahan bakar minyak atau aksi-aksi pengoplosan bahan bakar minyak," Pengamat kebijakan publik, Riko Noviantoro.

Pemerintah Perlu Fokus Jaga Stok dan Distribusi

Riko memperkirakan pemerintah akan memusatkan perhatian pada pengamanan stok Pertalite, pengendalian distribusi BBM subsidi, serta pengawasan terhadap potensi penyimpangan di lapangan.

Menurutnya, stabilitas pasokan energi menjadi faktor penting dalam menjaga kondisi ekonomi dan sosial masyarakat di tengah ketidakpastian global.

Ia berharap kombinasi antara penghematan penggunaan BBM oleh masyarakat, keteladanan pejabat dalam penggunaan energi, serta pengawasan distribusi yang efektif dapat mencegah munculnya gejolak baru akibat kenaikan harga Pertamax.

"Saya berharap langkah itu bisa menjaga stabilitas politik dan stabilitas keamanan kita yang pada akhirnya akan menjaga situasi ekonomi nasional," kata Riko. (Knu)

Baca Artikel Asli