BANDUNG sejak dulu merupakan tempat spesial jika berbicara tentang musik, khususnya musik underground. Banyak musisi mulai dari rock hingga metal berkelas yang lahir lewat skena musik Kota Bandung dan sekitarnya.
Salah satu tempat bersejarah untuk ekosistem musik di Bandung adalah Gelanggang Olahraga (GOR) Saparua. Tempat ikonik tersebut telah menjadi saksi pergerakan musik underground sejak 1970 hingga 1990an. Nilai sejarah itu sebentar lagi akan dibuatkan dokumenter yang akan tayang di 2021.
Baca juga:
Voice of Baceprot Jadi Wakil Indonesia di WOW UK Festival 2021
“Film ini adalah sebuah jurnal dari sebuah gedung yang kemudian sejak berdirinya dengan sengaja dialihfungsikan juga sebagai sarana panggung seni dan hiburan dari generasi ke generasi,” ucap sutradara Gelora Magnumentary: Saparua, Alvin Yunata saat konferensi pers virtual pada Selasa (30/3).
Digarap oleh Rich Music yang menjadi penggagas proyek rangkaian program DistorsiKERAS. Dokumenter ini disutradarai oleh Alvin Yunata, gitaris dari band Teenage Death Star yang merupakan seorang pegiat musik dengan pengalaman bidang jurnalistik dan aktivisme konservasi musik.
Tidak hanya itu, para pelaku sejarah pergerakan musik Bandung, seperti Sam Bimbo, Arian 13 (Seringai), Dadan Ketu (Manajer Burgerkill/Riotic Records), Eben (Burgerkill), dan Suar (Mantan vokalis Pure Saturday) juga dilibatkan sebagai narasumber pada dokumenter ini.
Gelora Magnumentary: Saparua dihadirkan untuk mengapresiasi sejarrah skena rock/metal di Indonesia. Program ini berdasarkan pada proyek Membakar Batas yang diprakarsai oleh Cerahati sejak 2011. Tujuan dari proyek ini adalah untuk menangkap semua tonggak besar dalam sejarah rock/metal di Indonesia.
Edy Khemod selaku Creative Director dari Cerahati menjelaskan, bahwa inisiatif awalnya adalah untuk merekam sejarah dan jadi inspirasi untuk generasi ke depan dan belajar dari momen tersebut.
Baca juga:
Teror Kujang Atawa Leak di Video Musik 'Tafsir Mistik' The Panturas
“Kami berasal dari Bandung, dan turut merasakan pertumbuhan budaya di Bandung era 90an saat gerakan independent mulai membesar di Bandung. Dan kami menyadari ternyata selama ini belum banyak dokumentasi dari momen sejarah tersebut,” ungkap Khemod.
Momentum 20 tahun penutupan Saparua sebagai ruang pertunjukan musik dirasa tepat untuk dihadirkan kembali kisah perjalanannya.
Melalui fakta dan juga wawancara yang membangkitkan memori, dokumenter ini diharapkan dapat memantik semangat kolektif dari para pemuda generasi sekarang agar ekosistem musik underground dapat terus terjalin.
Dokumenter Gelora Mangumentary: Saparua telah memasuki produksi tahap akhir, menyisakan beberapa hari untuk proses syuting. Dokumenter ini rencananya akan diluncurkan pada Juni 2021. (far)
Baca juga:
The Brandals Rayakan Perilisan Single ‘Belum Padam’ dengan Virtual Showcase