Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Gegara COVID-19, Partisipasi Pemilih di Pilkada 2020 Diprediksi Anjlok

Andika Pratama - Minggu, 12 Juli 2020

MerahPutih.com - Pengamat komunikasi politik Kennorton Hutasoit memprediksi partisipasi pemilih Pilkada 2020 yang jadwal pelaksanaannya 9 Desember 2020 turun drastis. Menurut Ken, penyebabnya warga masih ketakutan akan penyebaran COVID-19.

"Bisa jadi warga masih enggan datang ke TPS untuk menggunakan hak pilihnya karena khawatir penularan COVID-19 di lokasi-lokasi yang berpotensi kerumunan warga,” kata dia kepada MerahPutih.com di Jakarta, Minggu (12/6).

Baca Juga

Skema Jika Penyelenggara Pilkada Positif COVID-19

Ken menambahkan, situasi pandemi COVID-19 ini akan berdampak pada kegiatan pemberian suara pada Pilkada 2020. Hal ini karena berkaitan langsung dengan pembatasan kegiatan komunikasi tatap muka dalam jumlah banyak baik komunikasi penyelenggara pemilu dengan pemberi suara maupun komunikasi calon kepala daerah dengan pemberi suara.

'Terbatasnya komunikasi ini bisa berdampak pada kurangnya pengetahuan, gairah, dan partisipasi pemberi suara pada Pilkada 2020 nanti,” kata lulusan Magister Ilmu Komunikasi Politik dan Media Universitas Mercu Buana Jakarta itu.

Pengamat komunikasi politik Kennorton Hutasoit
Pengamat komunikasi politik Kennorton Hutasoit

Ken menjelaskan, partisipasi pemilih pada Pilkada nanti bisa jadi di bawah partisipasi pemilih pada pilkada sebelumnya.

"Kita tahu, partisipasi pemilih pada Pilkada serentak 2018 sekitar 73.24, pada 2017 bekisar 70-75 persen, dan pada 2015 berkisar 65-70 persen,” ujar Ken.

Ia melihat, tanpa dalam situasi pandemi COVID-19, akhir-akhir ini ada kecenderungan penurunan partisipasi pemilih karena berbagai faktor. Antara lain menurunnya kecenderungan warga negara untuk mengidentifikasi diri dengan partai politik dan secara bersamaan meningkatnya proporsi independen dalam politik

Seperti meningkatnya proporsi pemberi suara yang membelot dari kesetiaan terhadap partai, meningkatnya tingkat pemberian suara split ticket (kader berbeda pilihan politik dengan parpol), meningkatnya kehadiran di antara independen dan partisan yang lemah, dan meningkatnya kebergantungan pada media dalam masyarakat yang kompleks.

Baca Juga

Muncul Petisi Tunda Pilkada Demi Kesehatan dan Keselamatan Publik

“Ketika para pemberi suara tipe ini tidak mendapat informasi yang cukup pada Pilkada 2020 nanti, mereka bisa saja memutuskan tidak datang ke TPS untuk menggunakan hak pilihnya dan ini otomatis akan mengurangi tingkat partisipasi pemilih,” ungkapnya. (Knu)

Baca Artikel Asli