Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Elite Politik Solid, Penghambat Reformasi Jilid II

Dwi Astarini - Jumat, 19 Juni 2026

MERAHPUTIH.COM - WACANA Reformasi Jilid II kembali mencuat seiring aksi mahasiswa yang digelar aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) di berbagai daerah. Namun, Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign Nasarudin Sili Luli menilai peluang terjadinya Reformasi Jilid II masih kecil.

Menurut Nasarudin, gerakan perubahan besar seperti yang terjadi pada 1998 membutuhkan kombinasi krisis ekonomi dan krisis politik yang berlangsung secara bersamaan. Selain itu, konflik di kalangan elite politik tingkat pertama juga menjadi faktor penting.

"Jadi pemicu yang paling ampuh yakni krisis ekonomi dan krisis politik terjadi secara bersamaan," kata Nasarudin dalam keterangan tertulis, Jumat (19/6).

Dia mengatakan stabilitas politik nasional saat ini masih berada di tangan elite politik utama. Nasarudin menilai Presiden Prabowo Subianto memiliki modal politik yang kuat karena memiliki hubungan baik dengan para presiden terdahulu serta didukung koalisi besar di parlemen.

"Selama Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Joko Widodo (Jokowi), dan Prabowo Subianto masih dapat berkomunikasi secara intens, peluang terjadinya Reformasi Jilid II akan semakin kecil."

Nasarudin Sili Luli, Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign



Nasarudin juga menilai berbagai persoalan nasional masih dapat diselesaikan melalui jalur politik di tingkat pemimpin partai. Kondisi tersebut, kata dia, membuat konflik politik tidak berkembang menjadi krisis yang lebih besar.

Baca juga:

BEM SI Jawa Tengah Gaungkan Reformasi Jilid 2


Ia kemudian membandingkan situasi saat ini dengan Reformasi 1998. Saat itu, menurut Nasarudin, terjadi konflik antara Presiden Soeharto dengan sejumlah tokoh elite nasional yang mempercepat perubahan politik.

Selain itu, gerakan mahasiswa pada 1998 memiliki sejumlah tokoh yang menjadi simbol perjuangan. Sementara itu, gerakan Reformasi Jilid II saat ini dinilai belum memiliki figur yang dapat menjadi ikon perlawanan.

"Agenda reformasi jilid II tidak punya ikon gerakan mahasiswa yang bisa menjadi simbol perlawanan terhadap rezim," ujarnya.

Oleh karena itu, Nasarudin menilai gerakan mahasiswa yang berkembang saat ini belum berlangsung secara masif dan belum mencapai skala besar seperti yang terjadi pada era Reformasi 1998.(Pon)

Baca juga:

Kapolri Peringatkan Massa Demo Reformasi Jilid II jangan Anarkistis

Baca Artikel Asli