Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Disdik DKI Cabut KJP 60 Siswa karena Terlibat Tawuran, Tetap Dipastikan Tak Putus Sekolah

Ananda Dimas Prasetya - Senin, 25 Mei 2026

MerahPutih.com - Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta melaporkan sebanyak 60 siswa dicabut status Kartu Jakarta Pintar (KJP) akibat terlibat tawuran dalam periode 2025-2026.

Kepala Disdik DKI Jakarta Nahdiana menjelaskan, Senin (25/5), pada 2025 terdapat 20 siswa yang bantuan KJP-nya dibatalkan. Sementara pada 2026, sebanyak 40 siswa kembali kehilangan status penerima KJP karena kasus serupa.

Dalam data kami tahun 2025 sudah 20 orang itu kami batalkan KJP-nya karena tawuran. Di 2026 pun 40 siswa sudah dibatalkan KJP-nya,

Kepala Disdik DKI Jakarta Nahdiana.

Pencabutan KJP Didahului Proses Pembinaan

Nahdiana menegaskan pencabutan bantuan pendidikan tidak dilakukan secara otomatis. Siswa yang terlibat tawuran akan lebih dulu menjalani proses pendalaman dan pembinaan sesuai tingkat keterlibatan mereka.

Menurut dia, pihak sekolah dan dinas perlu memastikan apakah siswa hanya ikut-ikutan, terlibat secara sadar, atau bahkan menjadi pemicu tawuran.

“Dia nggak sengaja lalu ikut, dia ikut-ikutan dengan sadar, atau dia memang menginisiasi dan lain-lain itu nanti akan ada proses-prosesnya,” tuturnya.

Ia menambahkan, pencabutan KJP merupakan bagian dari proses pembinaan terhadap siswa yang terlibat aksi kekerasan antarpelajar.

“Emang kalau KJP, ketika dia tawuran, secara aturan kan memang dia harus dikeluarkan tapi yang harus diingat adalah bahwa itu adalah anak-anak kita, harus dalam pembinaan kita,” ucapnya.

Pastikan Siswa Tidak Putus Sekolah

Meski bantuan pendidikan dihentikan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan para siswa tersebut tetap dapat melanjutkan pendidikan.

Anak buah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung itu mengatakan pendekatan pembinaan tetap menjadi prioritas agar siswa tidak sampai putus sekolah.

“Dikeluarkan bukan berarti dia nanti jadi harus putus sekolah, itu concern-nya kita. Ini sebagai sebuah pembinaan. Biasanya kita komunikasi dengan sekolah-sekolah yang mungkin kalau manajemen itu dia lebih cocok di sekolah yang A, sekolah yang B,” pungkasnya. (Asp)

Baca Artikel Asli