Bocah SD Tak Bisa Beli Buku Bunuh Diri di NTT Potret Hitam Dunia Pendidikan

Rabu, 04 Februari 2026 - Wisnu Cipto

MerahPutih.com - Kasus tragis menimpa seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berusia 10 tahun berinisial YBS di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bocah itu nekat mengakhiri hidupnya setelah merasa tidak mampu membeli buku tulis dan pena untuk keperluan sekolah.

Peristiwa tragis itu memicu keprihatinan publik dan desakan evaluasi kebijakan pendidikan serta perlindungan sosial. Anggota Komisi VIII DPR RI, Ina Ammania, menilai tragedi ini sebagai alarm serius bagi negara.

“Kejadian ini harus menjadi alarm serius bagi negara. Contoh potret yang buruk bagi dunia pendidikan, termasuk hak-haknya,” kata Ina, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (4/2).

Baca juga:

Tali Nilon dan Surat Pendek, Kronologis Kisah Pilu Bocah SD Bunuh Diri Tak Bisa Beli Alat Sekolah di NTT

Peran KemenPPPA

Ina menekankan meski anggaran pendidikan telah dialokasikan besar, masih ada anak-anak yang tidak terlindungi aksesnya. Untuk itu, dia mendorong perlu adanya keterlibatan aktif dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).

“Ini untuk memastikan perlindungan lebih kuat terhadap anak-anak rentan, terutama di daerah terpencil seperti Ngada,” tandas politikus PDIP itu.

Baca juga:

Bocah SD Tidak Bisa Beli Buku Bunuh Diri Alarm Hilangnya Tanggung Jawab Sosial

Potret Kemiskinan di NTT

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan ekstrem di NTT masih tinggi, mencapai lebih dari 14 persen pada 2025, jauh di atas rata-rata nasional sekitar 9,4 persen.

Kondisi ini berdampak langsung pada akses pendidikan anak-anak di daerah terpencil. Tragedi YBS menjadi pengingat bahwa perlindungan sosial dan pemerataan akses pendidikan harus menjadi prioritas utama negara. (Knu)

Bagikan

Baca Original Artikel
Bagikan