MerahPutih.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai angin kencang yang diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah hingga 23 Juli 2026.
Selama prospek cuaca sepekan ke depan, BMKG tidak mengeluarkan peringatan dini terkait hujan lebat hingga sangat lebat.
Meski begitu, kondisi atmosfer masih memungkinkan munculnya angin kencang yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat di berbagai daerah.
Baca juga:
BMKG: Hampir Separuh Indonesia Masuk Musim Kemarau, Puncak Terjadi Agustus-September 2026
BMKG Prediksi Potensi Angin Kencang di Sejumlah Provinsi Indonesia
BMKG memperkirakan, potensi angin kencang akan terjadi di sejumlah provinsi.
Pada periode 20-23 Juli 2026, wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan meliputi Gorontalo, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Maluku Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Papua Barat, hingga Banten.
Kondisi tersebut menunjukkan, bahwa berkurangnya curah hujan selama musim kemarau tidak serta-merta membuat cuaca menjadi sepenuhnya aman.
Ancaman angin kencang tetap berpotensi muncul dan memberikan dampak terhadap berbagai aktivitas, terutama di luar ruangan.
BMKG menjelaskan, sebagian besar wilayah Indonesia pada Dasarian III Juli diperkirakan didominasi curah hujan rendah. Sekitar 76,54 persen wilayah diprakirakan mengalami kondisi tersebut seiring menguatnya fenomena El Nino.
Baca juga:
Cuaca Kering Picu Kebakaran Hebat Labuan Bajo, 25 Hektar Habis Dilahap Api
Penguatan El Nino terlihat dari anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 serta Southern Oscillation Index (SOI) yang terus meningkat sejak pertengahan Mei. Fenomena tersebut diperkirakan masih akan berkembang menuju El Nino kuat sepanjang 2026.
Meski curah hujan menurun, atmosfer Indonesia masih dipengaruhi berbagai faktor yang dapat memicu dinamika cuaca.
BMKG menyebut Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, belokan angin atau shearline, daerah konvergensi, hingga suhu muka laut yang relatif hangat masih berperan dalam pembentukan kondisi cuaca.
Kombinasi faktor tersebut tidak selalu memicu hujan lebat. Namun, kondisi itu dapat meningkatkan kecepatan angin di sejumlah wilayah sehingga tetap perlu diantisipasi.
Baca juga:
Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi, BMKG Ungkap Kondisi Terbaru Potensi Tsunami di Selat Sunda
Banten dan Jawa Barat Jadi Daerah dengan Potensi Angin Kencang
Jawa Barat menjadi salah satu daerah yang masuk dalam daftar wilayah dengan potensi angin kencang pada periode 17–19 Juli. Selanjutnya, pada periode 20–23 Juli, potensi tersebut masih diprakirakan berlangsung di Jawa Barat dan Banten.
Potensi angin kencang dapat menimbulkan berbagai dampak. Pohon tumbang, kerusakan atap rumah, robohnya papan reklame, hingga terganggunya aktivitas transportasi menjadi beberapa risiko yang perlu diwaspadai, terutama di kawasan terbuka maupun wilayah pesisir.
Sementara itu, BMKG masih memprakirakan hujan dengan intensitas sedang di sejumlah daerah. Pada periode 17–19 Juli, potensi hujan sedang diperkirakan terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Pegunungan, dan Papua. (knu)