Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup

Bandung Art Month Dibuka, Pamerkan Kehadiran Wajah 

Dwi Astarini - Selasa, 22 Agustus 2023

KATRINA menatap lekat-lekat setiap karya seni lukis yang tengah dipajang di Sanggar Olah Seni Bandung, Minggu (20/8). Sesekali ia mengangguk kala dijelaskan mengenai makna dari beberapa lukisan. "Pameran ini hebat, menarik sekali dan sangat bervariasi. Ada banyak lukisan dan bukan hanya itu, ada karya-karya lain juga seperti tiga dimensi ini," ujar warga negara Australia ini.

Baginya, tak ada kata lain yang bisa menggambarkan semuanya selain luar biasa. Ia mengaku terkesan dengan seluruh lukisan pada pameran Self Potrait 2 di Bandung Art Month (BAM) 6.

BACA JUGA:

Wisata Alquran ke Percetakan Syaamil Bandung

Lukisan karya Pak Hasan ialah satu yang paling berkesan buatnya. Lukisan tersebut bergambar wajah bercorak batik. "Gambar wajahnya mungkin tidak jelas. Tapi itu sepertinya ingin menunjukkan bahwa orang dalam gambar tersebut banyak pikiran dalam kepalanya. Kadang-kadang memang manusia itu tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam diri seseorang karena ada wajah di depannya," ungkapnya.

Kurator pameran, Rizki Luthfi Wiguna, menjelaskan Self Potrait 2 menjadi pembuka dari serangkaian acara BAM 6. Tema yang diusung kali ini ialah kehadiran wajah.

"Ada 150 karya yang hadir pada pameran kali ini dengan berbagai permasalahan dan ide yang nampak dari raut wajah karyanya, entah permasalahan personal atau menceritakan hal yang di luar dirinya," ucap Rizki.

BAM 6
Pameran lukisan potret diri membuka BAM 6.(foto: dok Humas Bandung)

Menurutnya, melalui wajah-wajahnya, para seniman mencoba mengekspresikan karya di atas bidang 30 x 30 cm. "Saya mencoba untuk mengangkat mengenai ingsun. Artinya aku, dan kelakuan dalam karya seni khususnya karya individu itu akan sangat terasa. Saat wajah-wajah 'aku' dalam sebuah karya hadir itu akan sangat nampak," paparnya.

Ia mengatakan, dari 150 karya di pameran Self Potrait 2, ada empat kecenderungan yang menjadi pembeda karya-karya lainnya. Pertama, memperlihatkan identitas secara utuh tanpa ada beban apa pun. Entah itu ketampanan, kecantikan, atau merekam dirinya sebagai dokumentasi pribadi.

Kedua, karya yang memperlihatkan kecenderungan berbagai teknik dan cara memvisualisasikan wajahnya. Namun, tidak menghilangkan identitas wajahnya secara utuh. Ketiga, hubungan antarpotrait diri dengan berbagai hal, situasi kondisi yang berlangsung saat ini, serta mungkin terkait dengan kesejarahan pribadinya. Cukup banyak yang menggunakan poin ini dalam karya mereka.

"Lalu keempat, mengarah pada pecampuran ide potrait diri dengan masalah hari ini, seperti keterlibatan dirinya dengan makhluk sosial," lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Bandung Connex, Rifky Goro Effendy menuturkan, tema besar yang diusung dalam BAM 6 kali ini ialah 'Menang'. "Sebab kita sudah melewati masa COVID-19 dan tidak ada lagi pembatasan. Jadi itu sebuah kemenangan dari masyarakat menghadapi COVID-19. Masyarakat kembali sustainable dari segi ekonomi budaya. Kesenian pun bisa menjadi marak pascapandemi ini," jelas Goro.

Ia menambahkan, Sanggar Olah Seni dijadikan sebagai pembuka BAM 6. Ajang seni ini akan dilaksanakan di 45 tempat, di antaranya Selasar Sunaryo, Grey Art Gallery, Nu Art, dan ada beberapa lokasi lain yang jumlahnya akan terus bertambah setelah pembukaan. "Kalau dari catatan, ada yang sampai Oktober pamerannya," katanya.

BACA JUGA:

Pasar Kreatif Bandung 2023, Catat Kapan dan Dimana Lokasinya

Dalam BAM 6, seni yang dipertunjukkan kebanyakan berupa seni rupa seperti lukisan, patung, keramik, dan kriya. Ada pula workshop crochet di dalam rangkaian ini. "Ada musik juga dari beberapa teman komunitas tapi di tempat-tempat lain. Semoga banyak masyarakat terutama di Bandung bisa menikmati acara-acara dan apresiasi kegiatan yang ada di Bandung Art Month ini," harapnya.

BAM 6
Bandung Art Month dibuka di Sanggar Olah Seni, Bandung.(foto: Dok Humas bandung)

Acara pembukaan BAM 6 juga dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung Arief Syaifudin. Ia menyampaikan kegiatan seperti ini merupakan salah satu aset kepariwisataan dan menjadi salah satu peluang untuk bisa menggeliatkan perekonomian. "Di Art Month ini banyak potensi karya yang tersampaikan. Kita kolaborasikan dengan seni yang lain sehingga bisa tersampaikan semua potensi yang ada di Kota Bandung. Bahkan BAM bisa masuk ke dalam event nasional," tutur Arief.

Ia berharap BAM 6 bisa menjadi daya tarik khusus bagi para pencipta karya seni dari lokal hingga mancanegara.(Imanha/Jawa Barat)

BACA JUGA:

Bersantap di Dalam Glass House Bandung

Baca Artikel Asli