Balawan & Batuan Ethnic Fusion: Bentuk Keresahan Musisi Tradisional
Kamis, 06 Agustus 2015 -
MerahPutih Budaya - Berawal dari prolog Balawan di atas panggung teater Salihara pada Rabu malam kemarin (5/8). Lewat pertunjukannya, Balawan mengungkapkan sedikit keresahannya sebagai musisi tradisional Indonesia. Tentunya lewat dialognya bersama kawan di Batuan Ethnic Fusion.
"Musisi sekarang sering ikut-ikutan tren. Musisi tradisional kurang laku," seperti itu kira-kira yang dikatakan Balawan saat di atas panggung.
Balawan dan beberapa musisi bawaannya, Batuan Ethnic Fusion, memainkan peran sebagai mantan musisi yang akhirnya mencari nafkah di Bali. Mereka akhirnya bersatu kembali dan mulai memainkan musik tradisional.
Dengan memadukan musik fusion jazz dan tradisi Bali, Balawan dan Batuan Ethnic Fusion berhasil membuat cengang para penonton. Kemahirannya bermain gitar dua leher tak bisa dipungkiri lagi.

Penari di penampilan Balawan & Batuan Ethnic Fusion di Salihara, Rabu (5/8). (Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)
Tak hanya itu, paduan suara gamelan Bali, gendang dan beberapa alat musik tradisional lainnya membuat musik instrumental Balawan begitu memukau. Ia menunjukkan bahwa musik tradisional bisa dinikmati tanpa adanya rasa kuno di hati penonton.
Balawan juga mencoba memadukan musik Eropa klasik di tengah-tengah pertunjukannya. Musik Bali dan internasional kembali menyatu. Balawan juga menyajikan penyanyi sinden dan penari.
Walau hanya musik instumental, gurauan Balawan bersama teman-temannya mampu membawa penonton terbawa dalam skenarionya yang penuh isi.
I Wayan Balawan dikenal dengan kemampuannya memainkan gitar dua leher. Tak hanya itu, ia juga mengembangkan teknik bermainnya dengan delapan jari bernama touch tapping style. Bersama Batuan Ethnic Fusion, Balawan mengusung eksplorasi tradisional Bali.
BACA JUGA:
Frankfurt Book Fair 2015, Ajang Literasi yang Berpolemik
Komik Indonesia, Asing di Negeri Sendiri
Jalan Sehat Bundaran HI Kenang Bung Karno