MERAHPUTIH.COM - TRADISI Ramadan tak hanya dilakukan di daerah dengan mayoritas muslim. Papua juga punya tradisi Ramadan yakni bakar batu. Tradisi ini kerap dilakukan mengakhiri Ramadan.
Tradisi bakar batu menjadi agenda tahunan muslim Papua yang sudah dilakukan sejak dahulu dan turun temurun. Prosesi penting ini diikuti seluruh warga, bahkan beberapa aktivitas bakar batu turut melibatkan warga nonmuslim. Aktivitas bakar batu ini bukan cuma dimaknai sebagai makan besar, melainkan juga mempererat toleransi dan kerukunan umat beragama.
Dahulu, praktik bakar batu dilakukan mengikuti konteks momennya, seperti adanya upacara kematian, persiapan perang, perayaan pernikahan dan lahiran, menyambut tamu kehormatan, hingga perdamaian antar suku yang berkonflik. Praktik bakar batu di momen tersebut diartikan sebagai penghormatan kepada leluhur, menyatukan kebersamaan, dan menyolidkan persaudaraan, dan penghormatan terhadap leluhur.
Tradisi bakar batu di akhir Ramadan masih terus eksis, dilestarikan suku di wilayah pegunungan seperti Paniai, Lanny Jaya, Yahukimo, Yalimo, dan Mimika.
Menjelang menyelenggarakan bakar batu, ada beberapa tahap persiapan yang mesti dipersiapkan. Dimulai dari persiapan lokasi. Agenda bakar batu itu merupakan cara massal sehingga diperlukan tempat yang luas, misalnya bisa di lapangan. Setelah itu, dilanjutkan dengan memilih tempat lubang besar untuk pembakaran batunya. Saat menetapkan lokasi lubang perlu untuk memperhatikan arah angin dan kenyamanan masyarakat.
Baca juga:
Kemudian penyelenggara bakar batu juga harus menyiapkan bahan berupa batu dan kayu. Hal ini digunakan untuk memasak bahan makanan yang akan dimasak. Bahan masakan yang kerap dipersiapkan seperti daging ayam, ubi jalar, singkong, dan sayur-sayuran lainnya.
Masuk ke tahap pembakaran batu. Kayu yang sudah dikumpulkan dibakar tujuannya memanaskan bongkahan batu. Panas batu ini akan membantu mematangkan bahan makanan yang sudah dikumpulkan. Batu yang panas disusun berlapis-lapis.
Proses memasak tak boleh dilakukan asal dan sembarangan. Kalau salah, makanan bisa tidak matang dan gagal. Semuanya dimulai dari tingkat pertama berupa daun hijau, ditimpa batu panas, lalu daging atau umbi-umbian. Lalu ditimpa dengan daun lagi, lalu baru panas lagi. Tutup batu panas dengan tumpukan daun. Jangan lupa tutup dengan tanah agar panas terperangkap dan masakan di dalam matang dengan sempurna.
Ketika proses pengungkepan berlangsung sudah berjam-jam, lubang yang berisikan batu panas dan makanan sudah bisa dibuka. Semua aktivitas bakar batu dilakukan dengan bersama-sama. Sajian di dalamnya bisa dinikmati bersama.
Hal yang jauh lebih menarik dari aktivitas bakar batu ini yaitu warga nonmuslim kerap terlibat dalam kepanitian acara. Karena ini merupakan momen menyambut Idul Fitri, pihak yang menjalankan iurannya ialah nonmuslim. Sebaliknya, jika bakar batu menyambut hari besar keagamaan lainnya, umat Islam yang menarik iuran.(Tka)
Baca juga: