Bahaya Kesehatan di Balik Gelas Kertas

Senin, 15 Juli 2024 - Dwi Astarini

MERAHPUTIH.COM - GELAS kertas acap disebut sebagai pilihan yang lebih ramah lingkungan dan aman untuk kesehatan ketimbang gelas plastik sekali pakai. Namun, kenyataannya enggak demikian. Studi membukti penggunaan gelas kertas masih memiliki risiko bahaya.

Gelas kertas hanya bisa digunakan untuk sekali pemakaian. Jika sudah digunakan, gelas kertas harus dibuang. Selain itu, cup kertas juga tidak bisa tahan lama karena mudah luruh jika terkena air dalam waktu lama.

Untuk membuatnya lebih tahan lama, gelas kertas diproduksi dengan bahan tambahan berupa plastik tipis yang melindungi bagian dalam cup tersebut. Tujuan penggunaan plastik tersebut ialah menjaga ketahanan cup kertas dari lemak dan air.

Seperti dilansir Sciencedaily, plastik yang melapisi bagian dalam cup kertas dibuat dari film plastik polilaktida, PLA, sejenis bioplastik. Bioplastik ini diproduksi dari sumber daya terbarukan, misalnya poli lactid acid jagung, singkong, atau tebu.

PLA sering dianggap dapat terbiodegradasi, artinya plastik ini dapat terurai lebih cepat jika dibandingkan dengan plastik berbahan dasar minyak dalam kondisi yang tepat. Namun, studi para peneliti menunjukkan PLA masih bisa menjadi racun.

Baca juga:

Studi Tunjukkan Gelas Kertas juga Berbahaya bagi Lingkungan

Profesor ilmu lingkungan di Departemen Biologi dan Ilmu Lingkungan di Universitas Gothenburg Bethanie Carney Almroth mengatakan ada potensi kandungan racun dalam gelas kertas. Ia mengatakan ada kemungkinan kandungan PLA mengandung mikroplastik dan kemudian masuk ke tubuh manusia.

"Ada risiko bahwa plastik tersebut tetap berada di alam dan mikroplastik yang dihasilkan dapat tertelan oleh hewan dan manusia, sama seperti plastik lainnya. Bioplastik setidaknya mengandung bahan kimia yang sama banyaknya dengan plastik konvensional," kata Almroth, dikutip Minggu (14/7).

Sebuah penelitian yang dilakukan Almroth menunjukan hasil genangan air dari wadah gelas plastik menimbulkan kematian pada nyamuk. Uji itu menunjukkan kemungkinan toksisitas.

Penelitian dimulai dengan tutup plastik dan cangkir polistiren. Gelas-gelas tersebut ditempatkan di air beriklim sedang atau sedimen dan dibiarkan larut hingga empat minggu. Larva tersebut kemudian dipelihara di akuarium yang berisi air atau sedimen yang tercemar kertas dan gelas plastik. Terlepas dari sumber kontaminasi, pertumbuhan larva berkurang di sedimen, dan paparan terhadap air yang tercemar juga menghambat perkembangan mereka.

Para ahli ekotoksikologi tidak melakukan analisis kimia untuk melihat zat mana yang telah larut dari cangkir kertas ke dalam air dan sedimen. Meskipun begitu, ia menduga campuran bahan kimia menyebabkan kerusakan tersebut. Namun, sulit untuk mengatakan lebih banyak, mengingat tidak diketahui bahan apa saja yang ada.

“Ini semua akan lebih mudah jika perusahaan diminta untuk memberi tahu kami apa yang mereka gunakan dalam produk mereka,” katanya.(tka)

Baca juga:

3 Bahan Tambahan untuk Segelas Air Putih Biar Makin Berkhasiat

Bagikan

Baca Original Artikel
Bagikan