Ancaman Terbaru Trump, AS Kenakan Tarif 25% ke Negara Rekan Dagang Aktif Iran
Selasa, 13 Januari 2026 -
MerahPutihcom - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kebijakan baru berupa tarif sebesar 25 persen terhadap semua negara yang masih menjalin perdagangan dengan Iran.
“Berlaku serta merta, negara manapun yang masih berbisnis dengan Republik Islam Iran akan membayar tarif sebesar 25 persen terhadap semua bisnis apapun yang mereka lakukan dengan Amerika Serikat,” kata Trump melalui Truth Social, dikutip Selasa (13/1).
Trump menegaskan keputusan tersebut bersifat final dan tidak bisa diganggu gugat. Meski begitu, detail teknis penerapan tarif impor belum dijelaskan lebih lanjut.
Baca juga:
Kota Basis Konsentrasi WNI di Iran Masih Aman, Kemenlu: Opsi Evakuasi Belum Mendesak
Demonstrasi Iran Kian Memanas
Kebijakan ini terbaru Pemerintah AS ini berlaku sejak Senin (12/1) kemarin, di tengah kondisi demonstrasi yang kian memanas di Iran.
Gelombang demonstrasi besar-besaran akibat krisis ekonomi yang semakin parah melanda Iran sejak akhir Desember 2025. Aksi protes dengan cepat menyebar ke berbagai kota dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Aksi demonstrasi besar-besaran di Iran yang dilaporkan telah menewaskan sekitar 500 orang, baik dari pihak sipil maupun aparat keamanan.
Sejumlah pejabat Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik serangan kelompok bersenjata terhadap fasilitas umum.
Baca juga:
Ancaman Militer AS ke Iran
Sebaliknya, Presiden Trump terus bersikap keras terhadap Iran, termasuk ancaman penggunaan kekuatan militer jika pemerintah Teheran dinilai bertindak berlebihan dalam meredam gelombang protes jika sampai membunuh para pendemo.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan Trump tidak ragu menggunakan kekuatan militer jika diperlukan, terutama bila aparat Iran menyerang pengunjuk rasa.
“Satu hal yang amat dikuasai Presiden Trump adalah menjaga semua opsinya tetap tersedia. Ketika serangan udara menjadi satu dari banyak opsi yang ada di tangan Presiden, diplomasi tetap menjadi pilihan pertama baginya,” kata Leavitt, dikutip Antara.
“Meski demikian, Presiden berkata bahwa ia tidak takut menggunakan opsi militer jika dan ketika ia merasa diperlukan, dan tidak ada yang lebih tahu soal hal ini daripada Iran,” tandas pejabat Gedung Putih itu. (*)