Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Analisis Loyonya Rupiah Hari Ini: Dolar AS Makin Garang, Harga Minyak Bikin Mata Uang Garuda Tergelincir

Angga Yudha Pratama - Senin, 14 September 2026

Merahputih.com - Pergerakan nilai tukar rupiah hari ini terhadap dolar AS kembali dibuka lesu lantaran pelaku pasar tengah merespons ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Pada pembukaan perdagangan Senin (14/9), posisi mata uang Garuda sedikit tergelincir 3 poin atau 0,02 persen ke level Rp17.614 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pelemahan ini langsung menjawab kekhawatiran pasar terhadap sentimen global yang saat ini sedang kurang bersahabat bagi mata uang di negara berkembang.

Baca juga:

Cek Kurs Rupiah Terhadap Dolar dan Pergerakan IHSG Hari Ini, Loyo di Awal Pekan

Tren rupiah melemah ini rupanya sangat dipengaruhi oleh memanasnya situasi geopolitik global dan ancaman lonjakan harga komoditas utama.

Rencana bank sentral Amerika Serikat yang diprediksi segera menaikkan suku bunga The Fed dalam waktu dekat, membuat dolar AS semakin perkasa dan otomatis menekan laju mata uang Asia.

Apalagi, prediksi rupiah ke depannya juga dibayangi oleh melesatnya harga minyak mentah dunia yang berpotensi membuat ruang fiskal dan keuangan negara semakin sempit.

Ancaman Suku Bunga The Fed Bikin Dolar AS Makin Perkasa

Ilustrasi

Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa tertekannya nilai tukar kita saat ini tidak lepas dari bayang-bayang kebijakan moneter Amerika Serikat serta sentimen energi global.

Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.600 - Rp17.680 dipengaruhi oleh global melemahnya mayoritas mata uang kawasan akibat kenaikan harga minyak seiring meningkatnya risiko geopolitik dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed Kamis (17/9) minggu ini,

ujar Rully dinukil Antara.

Pasar saat ini sedang pasang sikap waspada tinggi karena The Fed diproyeksikan bakal mengerek suku bunganya sebesar 25 basis points (bps) menjadi 4 persen.

Sinyal Hawkish Bank Indonesia & Tekanan Harga Minyak

Kondisi ekonomi global makin menantang kalau kita melihat tren yield (imbal hasil) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang sudah nyaris menyentuh level 5 persen, tepatnya di 4,96 persen. Ditambah lagi, indeks dolar juga sudah bertengger di angka 99.

Melihat situasi yang cukup panas ini, ekspektasi pasar mulai mengarah pada Bank Indonesia (BI) yang kemungkinan besar akan mengambil langkah hawkish atau pengetatan kebijakan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan depan.

Selain faktor dari negeri Paman Sam, ada satu lagi biang kerok yang bikin pusing, yakni lonjakan gila-gilaan harga emas hitam. Ruang fiskal pemerintah kini makin menyempit untuk menutupi selisih harga minyak.

Baca juga:

Analisis Pergerakan IHSG Hari Ini: Hati-Hati Tersangkut Jelang Putusan Bunga Bank Sentral AS

Sebagai gambaran, asumsi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) kita hanya mematok harga minyak di 70 dolar AS per barel, yang mana angka ini sudah jauh tertinggal dari realitas pasar.

Mengutip laporan dari Xinhua, harga kontrak berjangka minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan Oktober sukses menjebol level 100 dolar AS per barel pada pekan lalu.

Harga WTI ini sempat menyentuh level 100,88 dolar AS per barel, atau melonjak 5,03 persen dari hari sebelumnya. Catatan impresif ini sekaligus menjadi rekor tertinggi untuk kontrak berjangka minyak mentah WTI sejak bulan Mei lalu.

Baca Artikel Asli