MerahPutih.com - Pada Sabtu (28/2), Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan gabungan terhadap target-target di wilayah Iran, termasuk di Teheran, dengan laporan terjadi kerusakan dan jatuhnya korban sipil.
Televisi pemerintah memastikan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Selain itu, para petinggi militer juga menjadi korban dan meninggal.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Minggu (1/3) menyatakan Iran kehilangan sejumlah komandan militer dalam serangan bersama Amerika Serikat dan Israel, namun kemampuan militer negara itu tidak mengalami perubahan.
“Kami memang kehilangan beberapa komandan, itu fakta, dan nama-namanya sudah diumumkan. Namun fakta lainnya adalah tidak ada yang berubah dalam kemampuan militer kami,” ujar Araghchi kepada penyiar ABC.
Baca juga:
Geopolitik di Tingkat Global dan Perang Iran, Tingkatkan Resiko Harga Saham
Saat ditanya mengenai kemungkinan penyelesaian konflik dengan Amerika Serikat melalui perundingan, Araghchi mengatakan, Teheran memiliki pengalaman pahit dalam bernegosiasi dengan Washington.
Ia menambahkan bahwa tindakan yang dilakukan Amerika Serikat merupakan bentuk agresi.
“(Sementara) apa yang kami lakukan adalah tindakan membela diri. Ada perbedaan besar antara keduanya,” katanya.
Iran merespons serangan bersama itu dengan menembakkan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah sebagai tindakan untuk membela diri.
Di mana, diklaim sedikitnya 560 personel militer AS tewas dan luka-luka dalam serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di seluruh Timur Tengah,
"Pangkalan militer AS di Bahrain diserang oleh dua rudal balistik, dan pangkalan-pangkalan lain juga digempur serangan tanpa henti, yang sejauh ini mengakibatkan 560 tentara Amerika tewas atau luka-luka,"
sebut pernyataan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Laporan itu juga menyebutkan empat serangan pesawat tak berawak terhadap pangkalan angkatan laut Bahrain, yang menyebabkan "kerusakan serius" pada pusat komando dan dukungan.
Teheran menargetkan pangkalan angkatan laut AS Ali Al-Salem di Kuwait, mengganggu operasinya, serta tiga objek pangkalan angkatan laut Mohammed Al-Ahmad di sana.