Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup ShowBiz

4 Alasan Film 'The Invite' Layak Ditonton, Thriller Psikologis yang Tuai Pujian di Sundance

Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 24 Juni 2026

MerahPutih.com - Film thriller psikologis The Invite menjadi salah satu judul yang mencuri perhatian setelah tayang perdana di Sundance dan mendapat pujian luas dari para penonton maupun kritikus.

Antusiasme terhadap film ini bahkan sudah terlihat sejak masa distribusi. Sebelum melangkah ke pasar internasional, The Invite memicu persaingan penawaran dari sejumlah studio besar. Pada akhirnya, hak distribusi film tersebut berhasil diakuisisi oleh A24 dengan nilai lebih dari 10 juta dolar AS atau sekitar Rp 179,16 miliar.

Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 26 Juni 2026.

Kisah Pasangan yang Terjebak dalam Malam Penuh Kejutan

The Invite merupakan proyek yang digawangi Olivia Wilde dan mengikuti perjalanan pasangan suami-istri, Joe (Seth Rogen) dan Angela (Olivia Wilde), yang pernikahannya berada di ambang kehancuran.

Malam mereka berubah menjadi penuh ketegangan ketika mengundang tetangga misterius dari lantai atas untuk makan malam. Pasangan tersebut tampak memiliki kehidupan yang jauh lebih harmonis dan bergairah dibanding hubungan Joe dan Angela yang sedang bermasalah.

Pertemuan yang awalnya terlihat biasa perlahan berkembang menjadi rangkaian peristiwa tak terduga yang menguji hubungan, kepercayaan, dan batas psikologis para karakter.

Baca juga:

'The Debut' Hadirkan Trailer Perdana, Film Satir Psikologis Jesse Eisenberg Bongkar Sisi Gelap Dunia Teater

Dalam wawancaranya, Olivia Wilde menjelaskan bahwa lokasi syuting menjadi salah satu elemen penting dalam membangun suasana film.

Beberapa lokasi yang digunakan antara lain Molinari Delicatessen, Sekolah Menengah AP Giannini di Outer Sunset, hingga stasiun BART Glen Park.

Meski tampil indah di layar, lokasi-lokasi tersebut justru digunakan untuk memperkuat rasa keterasingan yang dialami pasangan utama. Perbedaan lingkungan, kenyamanan, dan ruang hidup menjadi simbol jarak emosional yang terus membesar di antara mereka.

Lewat ruang tamu yang sempit dan suasana yang intim, film ini menghadirkan ruang reflektif bagi para karakter untuk menghadapi konflik yang selama ini mereka pendam.

4 Alasan The Invite Layak Masuk Daftar Tontonan

1. Atmosfer Ketegangan yang Terbangun Perlahan

Salah satu kekuatan utama The Invite terletak pada kemampuannya membangun suasana yang mengganggu tanpa harus mengandalkan kejutan berlebihan.

Penonton diajak merasakan paranoia, ketidaknyamanan, dan kebingungan yang perlahan tumbuh seiring karakter utama mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam pertemuan tersebut.

Ketegangan hadir secara bertahap, membuat setiap percakapan dan gestur terasa menyimpan makna tersembunyi.

Baca juga:

Film Pemenang Cannes 'The Secret Agent' Tayang di Indonesia 7 Juli 2026

2. Eksplorasi Psikologis yang Mendalam

Film ini tidak hanya menawarkan misteri, tetapi juga menggali kondisi psikologis para karakternya.

Melalui interaksi Joe, Angela, dan pasangan tamu mereka yang diperankan Edward Norton serta Penélope Cruz, film ini menghadirkan percakapan-percakapan yang canggung sekaligus penuh makna.

Dari situ, penonton diajak menyaksikan bagaimana manusia menghadapi kehilangan, tekanan sosial, penderitaan, hingga kebutuhan untuk mencari makna dalam hidup mereka.

3. Perpaduan Komedi dan Kekacauan Hubungan

Meski dibalut nuansa thriller psikologis, The Invite juga menyisipkan unsur komedi yang membuat cerita terasa lebih hidup.

Humor yang muncul berasal dari dinamika hubungan antar-pasangan yang terasa dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari. Situasi yang canggung, perdebatan kecil, hingga konflik emosional disajikan dengan cara yang menghibur sekaligus mengena.

Perpaduan inilah yang membuat film tidak terasa terlalu berat meski mengangkat tema yang kompleks.

4. Terinspirasi dari Film-film Klasik

Olivia Wilde mengungkapkan bahwa film ini banyak terinspirasi dari karya-karya sutradara legendaris Mike Nichols.

Beberapa film yang menjadi referensi antara lain Who's Afraid of Virginia Woolf?, The Graduate, dan The Birdcage.

Selain itu, film ini juga diperkuat oleh naskah karya Rashida Jones dan Will McCormack, serta musik dari Devonté Hynes yang dikenal lewat proyek musik Blood Orange.

Kombinasi tersebut menghasilkan film yang memadukan kritik sosial, drama hubungan, humor gelap, dan ketegangan psikologis dalam satu cerita yang utuh. (Tka)

Baca Artikel Asli