Intelhan Kemhan-Unhan RI: Strategi Pertahanan Indonesia Harus Adaptif Hadapi Ancaman Lintas Domain di Era Digital

Soffi AmiraSoffi Amira - Kamis, 20 Agustus 2026
Intelhan Kemhan-Unhan RI: Strategi Pertahanan Indonesia Harus Adaptif Hadapi Ancaman Lintas Domain di Era Digital

Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Intelijen Pertahanan Kementerian Pertahanan RI, Mayjen TNI Ari Yulianto. Foto: Dok. Unhan

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Perkembangan teknologi digital telah memperluas spektrum ancaman terhadap pertahanan Indonesia.

Ancaman tidak lagi hanya muncul dalam bentuk konvensional, tetapi juga berkembang ke ruang siber dan informasi yang dapat dimanfaatkan untuk mengganggu sistem, jaringan, hingga kepentingan strategis negara.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Intelijen Pertahanan Kementerian Pertahanan RI, Mayjen TNI Ari Yulianto, S.IP., M.H.I., dalam Diskusi Strategis bertajuk “Transformasi Peperangan Asimetris di Era Kecerdasan Artifisial (AI): Penguatan Strategi Pertahanan dan Literasi Digital di Ruang Siber”.

Strategi pertahanan Indonesia perlu mempertimbangkan karakter geografis negara kepulauan, kemampuan militer, serta aspek ekonomi. Karena itu, strategi pertahanan harus mampu membangun pertahanan berlapis sekaligus memastikan pengendalian terhadap ruang strategis Indonesia.

ujar Ari

Diskusi tersebut digelar Program Studi Magister Peperangan Asimetris, Fakultas Strategi Pertahanan, Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI), di Kampus Unhan RI, Sentul, Bogor, Rabu (19/8).

Ari mengatakan, strategi pertahanan Indonesia perlu dirumuskan dengan mempertimbangkan karakter geografis sebagai negara kepulauan, kemampuan militer, sekaligus aspek ekonomi.

Pada kerangka tersebut, strategi pertahanan defensif-aktif Perisai Trisula Nusantara menempatkan pertahanan berlapis, pengendalian chokepoints, dan blanket udara sebagai elemen penting.

Perisai Trisula Nusantara dan Pertahanan Berlapis

Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Intelijen Pertahanan Kementerian Pertahanan RI, Mayjen TNI Ari Yulianto
Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Intelijen Pertahanan Kementerian Pertahanan RI, Mayjen TNI Ari Yulianto. Foto: Dok. Unhan

Pertahanan berlapis dalam konsep tersebut dibangun melalui pembagian mandala pertahanan. Mandala luar berada di luar 200 mil atau di luar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), mandala utama mencakup wilayah ZEE hingga batas teritorial 12 mil, sedangkan mandala dalam meliputi wilayah dari batas teritorial hingga daratan.

Sementara dalam pengendalian chokepoints, Indonesia membutuhkan kemampuan sea control untuk mendominasi wilayah laut terluar serta sea denial atau anti-access/area denial (A2/AD) untuk membatasi ruang gerak pihak lawan di wilayah perairan dalam.

Pada domain udara, strategi tersebut diperkuat melalui pembangunan sistem pertahanan udara berlapis, mulai dari jarak jauh, menengah, hingga dekat.

Sistem tersebut membutuhkan integrasi radar Koopsudnas dan Kohanudnas serta pengaktifan Air Defence Identification Zone (ADIZ) nasional.

Kemampuan yang dibutuhkan mencakup deteksi dini, intersepsi, hingga penghancuran terhadap ancaman udara.

Namun, menurut Ari, perkembangan teknologi digital membuat strategi pertahanan tidak lagi dapat hanya berorientasi pada domain darat, laut, dan udara. Ruang siber dan informasi telah menjadi bagian integral dari dinamika pertahanan kontemporer.

“Teknologi digital telah memperluas spektrum ancaman pertahanan, khususnya melalui serangan siber dan information operations,” katanya.

Sementara dalam konteks militer, Ari memetakan sejumlah bentuk ancaman siber yang perlu diantisipasi, mulai dari traffic analysis, information restoration, illegal access, network attack, counterfeit terminal access, counterfeit user access, illegal network connection, illegal software running, weak password, high-risk vulnerabilities, network intrusion, signal detection, information interception, virus implantation, hingga malicious code implantation.

Ragam ancaman tersebut menunjukkan bahwa keamanan siber tidak lagi dapat ditempatkan sebagai persoalan teknis yang berdiri sendiri. Ancaman dapat beririsan dengan operasi militer, informasi, komunikasi, serta infrastruktur strategis.

Perlunya Integrasi melalui JNOC

Kemhan dan Unhan gelar diskusi Transformasi Peperangan Asimetris di Era Kecerdasan Artifisial (AI): Penguatan Strategi Pertahanan dan Literasi Digital di Ruang Siber
Unhan gelar diskusi Transformasi Peperangan Asimetris di Era Kecerdasan Artifisial (AI): Penguatan Strategi Pertahanan dan Literasi Digital di Ruang Siber. Foto: Dok. Unhan

Ari juga menekankan pentingnya integrasi dan koordinasi antarkomponen pertahanan melalui konsep Joint National Operation Center (JNOC).

Pusat operasi bersama tersebut dinilai relevan untuk menghadapi ancaman lintas domain yang semakin kompleks.

Ancaman kontemporer dapat menggabungkan dimensi militer, siber, informasi, infrastruktur, dan aspek strategis lainnya. Karena itu, diperlukan integrasi dan koordinasi antarkomponen melalui konsep JNOC agar respons terhadap ancaman lintas domain dapat dilakukan secara terpadu.

kata Ari

Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Unhan RI, Mayjen TNI Dr. Fitry Taufiq Sahary, S.E., M.M., M.Kom (AI), yang memberikan tanggapan dalam forum tersebut, menilai perubahan karakter ancaman menuntut pertahanan Indonesia untuk tidak lagi melihat teknologi digital secara sektoral.

“Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara kita memahami pertahanan. Ancaman dapat muncul secara simultan di berbagai domain dan saling memperkuat satu sama lain. Karena itu, pembangunan kekuatan pertahanan harus diikuti kemampuan integrasi, interoperabilitas, sumber daya manusia, serta tata kelola yang mampu merespons ancaman secara cepat dan terpadu," ucapnya.

Menurut Fitry, penguatan pertahanan di era digital juga perlu memperhatikan keseimbangan antara pembangunan kapabilitas teknologi dan kesiapan manusia serta institusi. Teknologi dapat memperbesar kemampuan pertahanan, tetapi tanpa koordinasi dan sumber daya manusia yang memadai, teknologi justru dapat menciptakan kerentanan baru.

“Yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan memiliki teknologi, tetapi kemampuan mengintegrasikan teknologi ke dalam strategi pertahanan. Di sinilah pentingnya kolaborasi antarkomponen pertahanan, lembaga pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya," jelasnya.

Peperangan Asimetris Berkembang Seiring Teknologi

Kemhan dan Unhan gelar diskusi Transformasi Peperangan Asimetris di Era Kecerdasan Artifisial (AI): Penguatan Strategi Pertahanan dan Literasi Digital di Ruang Siber
Unhan gelar diskusi Transformasi Peperangan Asimetris di Era Kecerdasan Artifisial (AI): Penguatan Strategi Pertahanan dan Literasi Digital di Ruang Siber. Foto: Dok. Unhan

Sementara itu, Kaprodi Magister Peperangan Asimetris FSP Unhan RI, Kolonel Arh Dr. Bambang Utomo, S.I.P., M.Sos, menilai paparan tersebut memperlihatkan bahwa transformasi peperangan asimetris tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi dan perubahan karakter ancaman di ruang siber.

“Peperangan asimetris berkembang mengikuti perubahan lingkungan strategis. Ruang siber memungkinkan ancaman bergerak melampaui batas geografis dan menggabungkan berbagai instrumen secara bersamaan. Karena itu, penguatan strategi pertahanan harus mampu membaca keterhubungan antara ancaman militer, siber, informasi, dan infrastruktur strategis," urainya.

Bambang mengatakan, perspektif tersebut menjadi salah satu alasan Prodi Magister Peperangan Asimetris FSP Unhan RI mendorong diskusi lintas disiplin dan lintas sektor mengenai transformasi peperangan di era AI.

“Bagi Prodi Peperangan Asimetris, tantangannya bukan hanya bagaimana memahami teknologi baru, tetapi bagaimana mengantisipasi perubahan karakter peperangan yang ditimbulkannya. AI dan teknologi digital harus dibaca sebagai bagian dari perubahan strategis yang membutuhkan respons pertahanan yang adaptif, terintegrasi, dan berkelanjutan.”

Diskusi strategis tersebut merupakan bagian dari upaya Prodi Magister Peperangan Asimetris FSP Unhan RI mempertemukan perspektif pemerintah, militer, akademisi, legislatif, praktisi teknologi, dan komunitas dalam membaca perkembangan ancaman kontemporer.

Kegiatan ini secara khusus menempatkan perubahan karakter peperangan akibat AI, pemanfaatan AI dalam pertahanan siber, serta kebutuhan penguatan strategi dan kebijakan pertahanan sebagai fokus utama sesi diskusi.

Melalui forum tersebut, Prodi Magister Peperangan Asimetris menegaskan pentingnya pendekatan pertahanan yang tidak terkotak dalam satu domain. Ketika ancaman dapat bergerak dari ruang fisik ke ruang siber, informasi, dan infrastruktur secara bersamaan, respons pertahanan juga dituntut bergerak dalam kerangka yang terintegrasi.

Diskusi strategis tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai institusi dan disiplin, yakni Rektor Unhan RI yang diwakili Dekan FSP Unhan RI Mayjen TNI Dr. Oktaheroe Ramsi, S.I.P., M.Sc., serta Kepala BSSN Letjen TNI (Purn.) Drs. Nugroho Sulistyo Budi, M.M., M.Han. sebagai keynote speaker.

Turut hadir Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Intelijen Pertahanan Kemhan RI Mayjen TNI Ari Yulianto, S.IP., M.H.I., serta Dr. Pratama Dahlia Persadha selaku Chairman CISSReC. (*)

#Universitas Pertahanan #Serangan Siber #Artificial Intelligence #Kementerian Pertahanan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Soffi Amira

Content editor, jurnalis digital, content writer yang terbiasa menulis artikel Search Engine Optimization (SEO). Ilmu Komunikasi (Jurnalistik) Universitas Multimedia Nusantara (UMN) 2012-2017. Aktif menulis, mengedit, dan mengembangkan berbagai jenis konten, mulai dari sepak bola, teknologi, hingga isu-isu yang sedang tren.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Unhan Soroti Ancaman Siber di Era AI, Strategi Pertahanan Indonesia Harus Adaptif
Universitas Pertahanan menggelar diskusi Transformasi Peperangan Asimetris di Era Kecerdasan Artifisial (AI): Penguatan Strategi Pertahanan dan Literasi Digital di Ruang Siber.
Soffi Amira - Kamis, 20 Agustus 2026
Unhan Soroti Ancaman Siber di Era AI, Strategi Pertahanan Indonesia Harus Adaptif
Indonesia
AI Mengubah Medan Perang, Prodi Magister Peperangan Asimetris FSP Unhan RI Bongkar Ancaman Siber Baru
Unhan RI menggelar diskusi Transformasi Peperangan Asimetris di Era Kecerdasan Artifisial (AI): Penguatan Strategi Pertahanan dan Literasi Digital di Ruang Siber.
Soffi Amira - Rabu, 19 Agustus 2026
AI Mengubah Medan Perang, Prodi Magister Peperangan Asimetris FSP Unhan RI Bongkar Ancaman Siber Baru
Dunia
Perkembangan Pesat AI Mulai Tekan Lapangan Kerja
Perkembangan pesat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai membawa dampak terhadap pasar kerja.
Yusuf Abdillah - Rabu, 19 Agustus 2026
Perkembangan Pesat AI Mulai Tekan Lapangan Kerja
Indonesia
Komisi I DPR Bela Kenaikan Tunjangan Kinerja TNI dan Kemhan
Presiden Prabowo Subianto menaikkan tukin prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan pegawai Kementerian Pertahanan (Kemhan) melalui dua peraturan presiden
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 31 Juli 2026
Komisi I DPR Bela Kenaikan Tunjangan Kinerja TNI dan Kemhan
Indonesia
Diklat Bela Negara Koperasi Merah Putih Ditutup, 30 Ribu Manajer Mulai Disebar
Kementerian Pertahanan menutup Diklat Bela Negara SPPI 2026. Sebanyak 33.758 manajer Koperasi Merah Putih lulus pelatihan dan siap disebar ke seluruh Indonesia. Upacara penutupan digelar di Lanud Halim Perdanakusuma.
Wisnu Cipto - Jumat, 31 Juli 2026
Diklat Bela Negara Koperasi Merah Putih Ditutup, 30 Ribu Manajer Mulai Disebar
Indonesia
FSP Unhan RI Sambangi AKMIL Magelang, Bahas Kepemimpinan dan Strategi Pertahanan
Unhan RI melakukan study visit ke AKMIL Magelang. Program ini berlangsung sejak 27-31 Juli 2026.
Soffi Amira - Kamis, 30 Juli 2026
FSP Unhan RI Sambangi AKMIL Magelang, Bahas Kepemimpinan dan Strategi Pertahanan
Indonesia
Unhan RI Sambangi UGM, Bahas Masa Depan Pertahanan Indonesia di Tengah Ancaman Global
Unhan RI menyambangi UGM untuk membahas masa depan pertahanan Indonesia. Hal itu melihat ancaman global.
Soffi Amira - Selasa, 28 Juli 2026
Unhan RI Sambangi UGM, Bahas Masa Depan Pertahanan Indonesia di Tengah Ancaman Global
Fun
Restorasi 20 Tahun Pan's Labyrinth 100% Konvensional, Guillermo del Toro: Tidak Ada AI Sialan!
Guillermo del Toro menolak penggunaan AI dalam restorasi Pan’s Labyrinth. Perayaan 20 tahun film ikonik ini akan tayang ulang 9 Oktober 2026 dengan teknik konvensional dan konversi 3D.
Wisnu Cipto - Minggu, 26 Juli 2026
Restorasi 20 Tahun Pan's Labyrinth 100% Konvensional, Guillermo del Toro: Tidak Ada AI Sialan!
Indonesia
Keuntungan Ekonomi dari AI tak Boleh hanya Dirasakan Pengusaha Besar
Pemerintah diharap dapat memastikan distribusi manfaat ekonomi dari AI berlangsung lebih adil.
Dwi Astarini - Kamis, 16 Juli 2026
Keuntungan Ekonomi dari AI tak Boleh hanya Dirasakan Pengusaha Besar
Berita
PBB Serukan Pembatasan Pada Pekerjaan AI
UNICEF menyerukan kepada seluruh pemerintah, sektor swasta, dan mitra untuk menanamkan hak-hak anak dalam tata kelola AI global.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 06 Juli 2026
PBB Serukan Pembatasan Pada Pekerjaan AI
Bagikan